Sejarah Awal Mula Berdirinya Candi Borobudur

Sejarah Awal Mula Berdirinya Candi BorobudurCandi Borobudur merupakan candi Buddha, Berlokasi di Desa Borobudur Kabupaten Magelang Jawa Tengah. Meski Candi Borobudur merupakan candi terbesar kedua setelah Candi Ankor Wat di Kamboja (Jeffry, 2012). Tetapi karena banyak keistimewaan yang dimilikinya, maka tak sedikit pula para pakar yang mengatakan, bahwa Candi Borobudur yaitu candi atau vihara, sekaligus salah satu monument Buddha terbesar di dunia. Selain itu, candi ini juga mempunyai koleksi relief Buddha terlengkap di dunia (Pratama, 2014). Bahkan ada yang mengatakan, Candi Borobudur yaitu sebuah mahakarya agung, sebuah monumen Buddha terbesar di dunia yang telah diakui UNESCO. Candi ini merupakan Model puncak pencapaian keselarasan teknik arsitektur dan estetika senirupa warisan kejayaan Dinasti Buddha di Indonesia (Putro, 2014).


     
Sejarah Awal Mula Berdirinya Candi Borobudur
Sejarah Awal Mula Berdirinya Candi Borobudur
Candi Borobudur merupakan wujud bangunan yang tiada duanya di dunia. Borobudur mirip bangunan piramida Cheops di Gizeh Mesir. Dari kejauhan, Borobudur tampak seperti susunan bangunan berundak atau semacam piramida dan sebuah stupa. Namun berbeda dengan piramida raksasa Mesir dan Piramida Teotihuacan Meksiko, piramida Borobudur berupa punden berundak yang tak ditemukan di daerah dan belahan dunia manapun, termasuk India tempat kelahiran agama Buddha. Inilah salah satu kelebihan Candi Borobudur yang merupakan kekhasan arsitektur Buddhis di Indonesia (Jeffry, 2012).

            Monumen ini merupakan model alam semesta dan dibangun sebagai tempat suci untuk memuliakan Buddha sekaligus berfungsi sebagai tempat ziarah untuk menuntun umat Buddha berlatih dari alam nafsu duniawi menuju pencerahan dan kebijaksanaan cocok ajaran Buddha (Pratama, 2014).

            Candi Borobudur merupakan ‘puzzle’ atau ‘lego’ dari sekitar dua juta balok batu vulkanik raksasa yang dipahat sedemikian rupa sehingga bisa saling mengunci (interlock) meski tanpa menggunakan semen atau perekat apapun. Borobudur yang dibangun memakan waktu sekitar 75 tahun ini bukanlah hanya sekedar tumpukan ‘puzzle’batu raksasa, meski teknik menyusun batu-batu ini pun yaitu sebuah pekerjaan yang luar biasa. Borobudur juga menyimpan pesona keindahan karya seni bernilai tinggi bermuatan sejarah, budaya, dan agama. Kesepuluh pelataran Borobudur yaitu sebagai representasi filsafat Buddha Mahayana, yang menggambarkan sepuluh tingkatan Boddhisatwa yang wajib dilalui untuk mencapai kesempurnaan menjadi Buddha. Borobudur serupa dengan kitab Buddha yang dipahat di batuan dengan kualitas dan kuantitas pahatan relief dan Macam cerita yang sarat dengan makna, serta dilengkapi dengan rapang dan stupa yang tak kalah mengagumkan. Para pendiri Borobudur bermak-sud melalui Candi Borobudur ajaran-ajaran Buddha bisa tersajikan secara visual.

            Oleh karena kelebihan-kelebihan yang dimiliki Borobudur – bagus yang bersifat fisik (materi), arsitektur, estetika, ataupun yang bersifat non materi, yakni filosofi ajaran Buddha yang terkandung di dalamnya – inilah yang mendorong peneliti untuk menyusun makalah ini. Dengan harapan, mudah-mudahan tulisan ini bermanfaat bagi pengembangan pengetahuan tentang hazanah budaya warisan nenek moyang. Adapun yang menjadi tujuan dari penulisan makalah ini yaitu untuk mengungkap sejarah, nama, arsitektur, filosofi dan sesuatu yang telah hilang dari warisan budaya yang adiluhung ini.
           
Nama Borobudur
            berdasarkan Prof. Dr. Poerbotjaroko, nama Borobudur berasal dari kata ‘boro’ dan ‘budur’. Boro berasal dari bahasa Sansekerta yang berarti kompleks ‘candi, biara atau asrama’. Walaupun kata budur merujuk pada bahasa Bali, ‘beduhur’ yang berarti ‘di atas’. Pendapat ini dikuatkan oleh Prof. Dr, Stutterheim yang berpendapat bahwa Borobudur berarti ‘biara di atas sebuah bukit’. Walaupun berdasarkan Prof. J.G. De Casparis, berdasarkan prasasti Karang Tengah, nama Borobudur berasal dari bahasa Sansekerta, Bhumi Sambhara Bhudhara yang berarti ‘Bukit himpunan kebajikan sepuluh tingkatan Boddhisattwa’ (Soediman, 1968: 10-11).  

            Berdasarkan prasati Kayumwungan, Borobudur yaitu sebuah biara yang mengandung berlipat-lipat kebijakan Sugata atau Buddha. Namun istilah biara ini terasa janggal bila difahami mengikuti pengertian tentang sebuah biara sebagaimana diketahui biasa sekarang. berdasarkan Hudaya Kandahjaya dalam desertasinya istilah biara ini merujuk ke istilah teknis lainnya yang memungkinkan orang memahami rancangan arsitektur Borobudur. Istilah yang dimaksud yaitu sebuah wujud biara khusus yang diketahui sebagai sebuah bangunan atap (kumagara), yang punya sejarah panjang dan mengalami banyak perubahan makna sepanjang sejarah agama Buddha. Borobudur, tegasnya, yaitu sebuah struktur tempat Buddha Sakyamuni tinggal selama berada di dalam Rahim ibunya. Struktur itu berbentuk sebagai hasil dari berlipat-lipat kebijakan Buddha Sakyamuni (Gunawan, 2004).

Sejarah Berdiri Candi Borobudur
            Ada beberapa versi berkenaan dengan waktu pembangunan candi Borobudur,  beberapa berpendapat, masa pembangunan candi Borobudur diperkirakan memakan waktu sekitar satu abad, antara 750-847 M dalam tiga generasi kerajaan Buddha Wangsa Syailendra. Pembangunan candi ini dimulai pada masa Maharaja Dananjaya yang bergelar Sri Sanggramadananjaya, dilanjutkan oleh putranya, Samarattungga, dan diselesaikan oleh cucu perempuannya, Sang Dyah Pramodhawardhani.

            Walaupun berdasarkan Prof. J. G. De Casparis, berdasarkan prasasti Karang Tengah, dengan sengkala: rasa sagara kstidhara atau tahun Caka 746 (824 M), dibangun oleh raja Samaratungga dari dinasti Syailendra. Walaupun berdasarkan prasti Klurak (784M) pembangunan candi itu selesai pada tahun 847 M, yaitu pada masa kekuasaan Dyah Pramodhawardhani.

Penemuan Kembali dan Restorasi
            Pada permulaan abad ke 18, disebutkan dalam Babad Tanah Jawa bahwa Mas Dana yang memberontak kepada Pakubuwana I (1709-1710). Ia ditangkap di ‘Redi Borobudur’ (Gunung Borobudur). Lima puluh tahun kemudian (1757-1758) seorang Sultan dari Yogyakarta Menjalankan perjalanan ke Borobudur untuk memperhatikan 1000 patung (Soediman, 1968: 14).

            Selama pereode pemerintahan Thomas Stamford Raffles (1814), Gubernur jenderal itu demikian tertarik kepada peninggalan Candi Borobudur, sehingga ia memerintahkan kepada H.C. Cornelius seorang military engineer, untuk membersihkan Candi Borobudur yang beberapa telah runtuh dan terkubur tanah, serta ditumbuhi belukar dan tertimbun sampah (ibid). Hartmann, Residen Kedu, seorang pejabat pemerintah Hindia Belanda,  meneruskan pekerjaan Cornelius. Atas upaya Hartmann akhirnya pada tahun 1835 seluruh bagian bangunan telah tergali dan terlihat. Minat Hartmann kepada Borobudur lebih bersifat pribadi dari pada tugas sebagai pejabat pemerintah. Hartmann tak menulis laporan atas kerjanya. Dari pekerjaan Hartmann itu beredar kabar bahwa ia telah menemukan rapang Buddha yang belum selesai (unfinished Buddha) dalam dagoba. Meski yang ditemukan Hartmann hingga sekarang tetap menjadi misteri (lihat: http://id.wikipedia.org/wiki/boro-budur).

            Upaya restorasi selanjutnya, pemerintah Hindia Belanda menugaskan F.C. Wilsen, seorang insinyur pejabat Belanda bidang teknik, untuk mempelajari monumen ini dan menggambar ratusan relief. Disamping Wilsen, J.F.G. Brumund juga ditunjuk untuk Menjalankan penelitian lebih rinci. Brumund bisa merampungkan tugasnya pada tahun 1859. Karena Brumund tak bersedia bekerjasama dengan Wilsen, sehingga pemerintah Hindia Belanda kemudian menugaskan C. Leemans yang mengkompilasi monografi berdasarkan sumber dari Brumund dan Wilsen. Monografi pertama dan penelitian lebih detail tentang Borobudur diterbitkan dalam tahun 1873, dilanjutkan dengan terjemahannya dalam bahasa Perancis setahun kemudian. Walaupun foto pertama diambil dalam tahun yang sama (1873) oleh pakar engrafi Belanda, Isidore van Kinsbergen (ibid).

            Borobudur kembali menarik perhatian ketika Yzerman dalam tahun 1885 menemukan kaki candi yang tersembunyi. Foto-foto tentang relief pada kaki tersembunyi itu diwujudkan antara tahun 1890-1891. Penemuan ini mendorong pemerintah Hindia Belanda untuk menjaga kelestarian Borobudur, sehingga membentuk tim terdiri atas tiga pakar, yaitu Brandes (sejarawan seni), Theodoorus van Erp (insinyur pakar teknik bangunan genie militer), dan Van de Kamer (Insinyur pakar konstruksi bangunan). Dalam tahun 1902, tim ini mengajukan proposal untuk pemugaran dengan biaya sekitar 48.800 Gulden. Pemugaran dilaksanakan antara tahun 1907-1911 dipimpin oleh Theodoorus van Erp.

Setelah jaman kemerdekaan, pada akhir tahun 1960-an, Pemerintah RI mengajukan permintaan dana pemugaran kepada  masyarakat dunia untuk menyelamatkan Borobudur. Dalam tahun 1973 Pemerintah RI dan UNESCO merencanakan pemugaran menyeluruh kepada Candi Borobudur. Rencana hal yang demikian dilaksanakan antara tahun 1975-1982.

Arsitektur
            Theodoorus van Erp tertarik untuk meneliti dan mempelajari seluk-beluk Candi Borobudur. Untuk itu ia Menjalankan studi banding selama beberapa tahun di India. Ia juga pergi ke Sri Langka untuk memperhatikan susunan bangunan puncak Stupa Sanchi di Kandy, hingga akhirnya Van Erp menemukan wujud Candi Borobudur (Afrianti, 2008). Denah candi Borobudur membentuk mandala (Sansekerta: lingkaran, kesempurnaan), yaitu pola geometris yang melambangkan alam semesta dalam kosmologi Buddha. Ajaran Buddha membagi alam semesta menjadi tiga unsur yang disebut ‘dhatu’ (Gunawan, 204).
            berdasarkan hasil penelitian Robert von Heine Geldern dari Austria, bahwasannya nenek moyang bangsa Indonesia sudah mengenal tata budaya pada jaman neolitik dan megalitik yang berasal dari Vietnam Selatan dan Kamboja, yang diketahui dengan kebudayaan Dongson. Oleh karena itu, arsitektur Borobudur merupakan kombinasi dari unsur-unsur lokal, yaitu unsur-unsur arsitektur megalitik punden berundak atau piramida bertingkat warisan budaya prasejarah di Indonesia, seperti piramida bertingkat Gunung Padang di Jawa Barat dengan konstruksi stupa dan mandala (ajaran Buddha).

            Arsitektur Borobudur mempunyai dasar berupa bujur sangkar berukuran 123 m (400 kaki) pada tiap-tiap sisinya. Bangunan ini mempunyai 9 teras, terdiri dari 6 teras berbentuk bujur sangkar dan 3 teras di atasnya berbentuk lingkaran. Tingkatan tertinggi berupa stupa besar yang disebut dhatugarba (dhagoba). Di atas dhagoba dulu terdapat catra (tiga buah payung bertingkat), yang runtuh karena disambar petir.

            berdasarkan prasati Klurak (784 M), pembangunan candi ini dibantu oleh seorang guru dari Ghandadwipa (Bengalore) bernama Kamaragacya dan seorang pangeran dari Kasmir bernama Visvawarman yang berbuat sebagai penasehat pakar dalam ajaran Tantra Vajrayana Buddhis (Putra, 2012).

            W.O.J. Nieuwenkamp (1931) mengajukan teori bahwa dataran Kedu dulunya yaitu sebuah danau, dan Borobudur dibangun melambangkan bunga teratai yang mengapung di atas permukaan danau. wujud arsitektur Borobudur sendiri menyerupai bunga teratai, dan postur Buddha di Borobudur melambangkan ‘sutra teratai’ yang kebanyakan ditemui dalam naskah keagamaan Buddha Mahayana. Tiga pelataran melingkar di puncak Borobudur juga diduga melambangkan kelopak bunga teratai. Akan tetapi teori Nieuwenkamp ini banyak menemui bantahan para arkeolog, yang mengatakan bahwa daratan di sekitar Borobudur pada masa pembangunannya merupakan daratan kering, bukan dasar danau purba. Sementara para pakar geologi justru menunjang teori Nieuwenkamp dengan menunjukkan bukti adanya sendimen lumpur di dekat situs ini. Sebuah penelitian stratigrafi, sendimen tahun 2000 menunjang keberadaan danau purba di lingkungan sekitar  Borobudur .

            berdasarkan legenda setempat arsitek Candi Borobudur bernama Gunadharma. Legenda tentang Gunadharma ini oleh penduduk setempat sering dikaitkan dengan Bukit Menoreh, yang berada tak jauh dari Borobudur. Bukit itu sekiranya dilihat dari Borobudur mirip dengan seorang raksasa yang sedang tidur telentang. Dalam legenda hal yang demikian diceritakan, setelah Gunadharma berhasil membangun Candi Borobudur, ia beristirahat tidur telentang dan karena kelelahan sehingga menemui ajalnya. Jasadnya kemudian berubah menjadi Bukit Menoreh.

Teknik Pembangunan
            Banyak orang ketika memperhatikan candi apapun, terpenting candi-candi yang dibangun menjulang tinggi seperti Candi Prambanan (47 m), dan Candi Borobudur (42 m), menanyakan bagaimana cara mengangkat dan meletakkan batu sebesar dan seberat itu ke atas  puncak candi yang setinggi itu, padahal waktu itu belum ada alat berat (misal crane) untuk mengangkat dan meletakkan barang-barang yang berat di tempat yang tinggi. Untuk itu, para pakar menyamakan teknik pembangunan candi-candi di Indonesia termasuk Candi Borobudur dengan pembangunan piramida di Mesir. Teknik hal yang demikian yaitu teknik ‘timbun, tarik dan dorong’. tiap-tiap satu deret batu secara horizontal telah selesai disusun, kemudian bagian luarnya ditimbun dengan tanah atau pasir hingga sejajar dengan permukaannya. Dengan demikian batu-batu selanjutnya tak perlu diangkat melainkan cukup ditarik dengan tali yang kuat dan didorong sehingga bisa disusun secara horisontal pada posisinya. Demikian dan seterusnya hingga selesai pembangunannya. Setelah selesai tanahnya digali kembali dan disingkirkan, meski teknik ini sulit untuk dibayangkan.

            Batu-batu candi Borobudur disusun dengan menggunakan teknik interlocking stone, saling kait mengkait. beberapa batu ada pasaknya dan beberapa yang lain ada lubangnya, dan batu-batu itu disusun secara kait mengkait. Keterkaitan antara batu yang satu dengan batu yang lain tak menggunakan perekat Contohnya adukan semen.

Setelah candi yang terbuat dari batu andesit ini selesai dibangun kemudian dilapisi vajra lepa, yaitu adukan dari tujuh unsur  yang sudah tak diketahui unsur-unsurnya. Vajra lepa ini berwarna kuning keemasan dan tak bisa ditumbuhi lumut. Fungsi lapisan vajra lepa ini selain agar sela-sela atarbatu tak bisa kemasukan air hujan dan tak ditumbuhi lumut. Sehingga, sebelum Candi Borobudur runtuh, candi ini selain megah dan indah juga betul-betul memukau karena vajra lepa yang membukusnya memancarkan warna kuning keemasan[1].

Filosofi Ajaran Buddha
            Stutterheim dan N.J. Krom, mengemukakan landasan falsafah dan agama yang melatarbelakangi berdirinya Candi Borobudur yaitu ajaran Buddha Dharma aliran Mahayana-Yogacara dan ada kecenderungan bercampur dengan aliran Tantrayana-Vajrayana.

            berdasarkan Prof. Dr. W.F. Stutterheim (1929), bahwa Candi Borobudur itu merupakan ‘replika’ dari alam semesta yang berdasarkan ajaran Buddha terdiri atas  3 unsur, yaitu: 1) Kamadhatu (unsur nafsu); 2) Rupadhatu (unsur wujud); dan 3) Arupadhatu (unsur tak berwujud). Walaupun berdasarkan Prof. J. G. De Casparis (1950) bahwa Borobudur bertingkat 10 menggambarkan secara terang filsafat agama Buddha Mahayana yang disebut ‘Dasabodhisatwabhumi’. Filsafat itu mengajarkan, bahwa tiap-tiap orang yang ingin mencapai tingkat kedudukan sebagai Buddha wajib melampaui 10 tingkat Bodhisatwa. Apabila telah melampaui 10 tingkat itu, maka manusia akan mencapai kesempurnaan dan akan menjadi Buddha.

Kamadhatuyaitu bagian kaki candi, yang menggambarkan kehidupan awam yang masih dikuasai oleh kama atau nafsu (seksual) yang rendah. Pada tingat ini dipenuhi dengan 160 panel relief Karmawibhangga. Relief ini menggambarkan tentang hukum karma, hukum karena akibat dari suatu perbuatan bagus dan buruk. Bahkan relief ini secara terang   menggambarkan tentang nafsu dan kenikmatan, perbuatan dosa serta hukuman yang diterima,  dan sebaliknya tentang perbuatan bagus dan pahalanya. Karena oleh pemerintah Hindia Belanda relief Karmawibhangga dianggap tabu, sehingga relief hal yang demikian ditutup oleh J.W. Yzerman dengan sekitar 12.750 m2 batu penutup.[2]

Rupadhatu,menggambarkan tingkatan hidup manusia yang sudah terlepas dari kama, tetapi masih terikat dari rupa (materi), atau kehidupan yang masih mengejar kekayaan duniawi. Bagian ini terdiri dari empat lorong yang dihiasi 1300 panel relief yang panjang seluruhnya mencapai 2,5 km.

Arupadhatu, denah lantai berbentuk lingkaran, dan dindingnya polos tak ada relief. Ini menggambarkan tingkatan dimana manusia sudah terbebas dari rupa (nafsu kepada materi). Tetapi manusia belum mencapai tingkat nirwana. Rapang-rapang Buddha ditempatkan di dalam stupa yang berlubang-lubang seperti kurungan. Di tingkat ini, rapang Buddha berada dalam stupa dengan lubang berbentuk layang-layang (diamond shape) yang melambangkan bahwa pada tingkatan ini manusia meskipun sudah berupaya meninggalkan nafsu duniawi namun masih belum stabil, dan kadang-kadang masih goyah tergoda oleh indahnya nafsu duniawi;

Di atas tingkat arupadhatu, ada tiga tingkatan lagi, yaitu:
a.     Nirwana yang paling bawah, ditandai dengan lubang stupa berbentuk layang-layang (diamond shape) yang melambangkan bahwa meskipun sudah berada di nirwana namun masih belum stabil dan kadang-kadang masih goyah.
b.     Parinirwana, tingkat kedua, ditandai dengan lubang stupa berbentuk persegi (square shape) yang melambangkan bahwa pada tingkatan ini manusia sudah stabil keyakinannya untuk meninggalkan sepenuhnya nafsu duniawi;
c.      Mahaparinirwana, tingkatan tertinggi, dilambangkan dengan stupa yang terbesar, stupa polos tanpa lubang, yang disebut Dhatugharba (Dhagoba),dimana manusia sudah mencapai tingkatan ketiadaan wujud yang sempurna. Dengan stupa tanpa lubang, tak membatasi pandangan sama sekali, karena pada tingkatan ini manusia memperhatikan bukan dengan mata kepala, melainkan dengan mata hati. Atau sebagai lambang kasunyatan, kesunyian dan ketiadaan sempurna, dimana jiwa manusia sudah tak terikat hasrat, keinginan, dan wujud serta terbebas dari lingkaran samsara.


Rapang Buddha
            Di Candi Borobudur terdapat banyak rapang Buddha duduk bersila dalam posisi teratai dan mudra atau sikap tangan tertentu. Rapang Buddha dalam relung-relung di tingkat Rupadhatu ditata berdasarkan deretan di sisi luar pagar langkan, jumlahnya semakin berkurang pada tingkat atasnya. Pada deretan pagar langkan pertama terdapat 104 rapang, deret kedua 104 rapang, deret ketiga 88 rapang, deret keempat 72 rapang, deret kelima 64 rapang. Jumlah keseluruhan rapang Buddha di tingkat Rupadhatu sebanyak 432 rapang.

            Pada tingkat Arupadhatu (tiga pelataran melingkar), rapang Buddha diletakkan dalam stupa-stupa berlubang. Pada pelataran melingkar pertama terdapat 32 rapang, pelataran kedua 24 rapang, dan pelataran ketiga 16 rapang. Semuanya berjumlah 72 rapang. Secara keseluruhan jumlah rapang di tingkat Rupadhatu dan Arupadhatu seharusnya (cocok dengan aslinya) terdapat 504 rapang Buddha, namun 43 rapang telah hilang, dan 300 rapang dalam situasidianalisis rusak, kebanyakan tanpa kepala. Kepala rapang Buddha banyak diburu para pencuri dan dijual kepada para kolektor, kebanyakan dibeli oleh museum luar negeri.

            Di tingkat paling tinggi, dalam dhagoba  pernah diketemukan rapang Buddha yang belum selesai (unfinished Buddha), yang semula diduga sebagai rapang Adibuddha. Setelah diadakan penelitian, tak pernah ada patung dalam dhagoba. Rapang yang tak selesai itu merupakan kekeliruan pamahatnya pada zaman dulu. berdasarkan kepercayaan, rapang yang salah dalam pembuatannya tak boleh dirusak (Jeffry, 2012).

            Tjoek Kertosari[3]mengatakan, bahwa pada waktu Ratu Sirikit – dari Thailand – berkunjung ke Indonesia, Sirikit mengatakan kepada Presiden Soekarno, bahwa kakeknya, Raja Chulolongkorn mempunyai rapang Buddha terbuat dari emas yang ada hubungannya dengan peninggalan jaman kejayaan Buddha di Jawa. Kertosari menghubungkan rapang emas itu dengan apa yang dijalankan Hartmann, Residen Kedu yang membersihkan Candi Borobudur  (1842), hanyalah sebuah kedok dari pencurian rapang emas yang ada dalam dhagoba dan Hartmann yang memasukkan patung yang tak selesai itu ke dalam dhagoba.

            Kepemilikan Raja Chulolongkorn atas rapang emas hal yang demikian juga bisa dikaitkan dengan tindakan penjarahan situs bersejarah yang direstui oleh Pemerintah Kolonial Belanda. Raja Chulolongkorn ketika mengunjungi Jawa (1896) menyatakan minatnya untuk mempunyai beberapa bagian dari Borobudur. Pemerintahn Hindia Belanda mengizinkan dan menghadiahkan delapan gerobak penuh rapang dan bagian bangunan candi. Artefak yang diboyong ke Thailand antara lain, 5 rapang Buddha dan 30 potong batu relief, dua patung singa, relief kala, tangga dan gerbang, dan arca dwaraphala (Soediman, 1968: 14-15).  Beberapa artefak ini, arca singa dan dwaraphala dipajang di Museum Nasional Bangkok

            Sekilas rapang-rapang Buddha terlihat serupa, akan tetapi sekiranya dilihat berdasarkan ikonografi, rapang Buddha mudah dibedakan berdasakan mudra (sikap tangan). Ada lima Macam mudra, kesemuanya berdasarkan empat arah mata angin ditambah satu di tengah. Rapang Buddha yang terdapat pada keempat pagar langkan mempunyai empat mudra yang berbeda, cocok dengan arah rapang itu menghadap, yakni: timur, selatan, barat, dan utara. Walaupun rapang Buddha pada pagar langkan kelima dan rapang Buddha dalam 72 stupa berlubang menampilkan mudra tengah atau sentral.

            Mudra rapang Buddha di Candi Borobudur dilihat dengan mengikuti arah pradaksina yaitu mengelilingi candi mengikuti arah putaran jarum jam, bisa disimak dalam table berikut:
Tabel: 1
Mudra Rapang Budda Candi Borobudur
Dhyani Buddha
Arah Mata Angin
Mudra
Makna/Lambang
Letak Rapang
Aksobhya
Timur
Bumisparsa
Bersumpah kepada bumi
PagarLangkan ba- ris 1-4 Rupadhatu
Ratnasambawa
Selatan
Wara
Kedermawanan
PagarLangkan ba- ris 1-4 Rupadhatu
Amitabha
Barat
Dhyana
Meditasi
PagarLangkan Ba- ris 1-4 Rupadhatu
Amoghasiddhi
Utara
Abhaya
Menangkal Bahaya
PagarLangkan ba- ris 1-4 Rupadhatu
Wairocana
Tengah
Witarka
Akal Budi
PagarLangkan ba- ris ke 5 Rupadhatu
Wairocana
Tengah
Dharmacakra
Pemutaran roda dharma
Di dalam 72 stupa berlubang Arupa-dhatu

Relief Borobudur
Candi Borobudur dihiasi dengan relief terpanjang di dunia (2,5 km). Relief hal yang demikian terdiri dari beberapa judul cerita. Susunan dan judul cerita relief pada dinding dan pagar langkan candi bisa disimak pada bagan atau tabel berikut ini:
Tabel: 2
Relief Candi Borobudur
Tikat
Letak
Judul Cerita
Jumlah
Panel
Kamadhatu (kaki candi asli)

Dinding kaki (tertutup batu Yzerman)
Karmawibhangga
160
Rupadhatu
Tingkat 1
Dinding
a.   Lalitavistara

120
b.   Buddhacarita
120
Langkan
a.   Jatakamala/avadana
372
b.  Jatakamala/avadana
128
Tingkat 2
Dinding
Gandaviyuha
128
Langkan
Jatakamala/avadana
100
Tingkat 3
Dinding
Gandaviyuha
88
Langkan
Gandaviyuha
88
Tingkat 4
Diding
Gandaviyuha
84
Langkan
Gandaviyuha
72
Jumlah
1.460

a.  Karmawibhangga
yaitu relief yang menggambarkan suatu cerita yang mempunyai korelasi karena akibat (hukum karma). Di ranah Kamadhatu, beberapa relief Karmawibhangga menggambarkan hawa nafsu manusia, seperti perampokan, pembunuhan, penyiksaan dan penistaan. Relief Karmawibhangga ini tak hanya menggambarkan perbuatan jahat tetapi juga menggambarkan ajaran karena akibat dari perbuatan bagus.

tiap-tiap panel Karmawibhangga bukan merukan suatu rangkaian cerita (berseri), melainkan merukan potongan-potongan cerita yang berisi kisah-kisah yang di antaranya menggambarkan perilaku masyarakat Jawa pada masa lalu, meliputi perilaku keagamaan, mata pencaharian, struktur sosial, tata busana, peralatan hidup, Macam-Macam flora dan fauna dan sebagainya.
Relief Karmawibhangga ini terdiri dari 160 panel, namun relief hal yang demikian tersembunyi karena ditutup struktur batu. Batu penutup ini kemudian diketahui dengan nama batu Yzerman.
b.  Lalitavistara
Berisi riwayat Sang Buddha yang dimulai dari turunnya Sang Buddha dari surga Tusita, yakni lahirnya Sang Buddha di dunia sebagai Pangeran Sidharta Gautama, putra Raja Sudhodana dan permaisuri Maya dari Negeri Kapilawastu. Riwayat hal yang demikian berakhir dengan wejangan pertama di Taman Rusa dekat Kota Benares, yang secara simbolis dinyatakan sebagai pemutaran Roda Dharma.
c.  Buddhacarita
yaitu bermacam-macam cerita tentang sang Buddha sebelum dilahirkan sebagai pageran Sidharta. Isinya merupakan pokok penonjolan perbuatan-perbuatan bagus, seperti sikap rela berkorban dan suka menolong yang membedakan Sang Bodhisattwa dengan makhluk lain.
d.  Jatakamala
Merupakan cerita fable yaitu kisah yang melibatkan tokoh satwa yang bersikap dan berfikir sebagai manusia.
e.  Avadhana
Pada dasarnya hampir sama dengan Buddhacarita akan tetapi tokohnya bukan Sang Buddha, melainkan orang lain. Cerita ini terhimpun dalam kitab Diwyawadana yang berarti perbuatan mulia kedewaan dan kitab Avadanasataka atau seratus cerita Avadana.
f.    Gandawyuha
Merupakan deretan relief menghiasi dinding lorong ke 2, yaitu cerita Sudhana yang berkelana tanpa mengenal lelah dalam usaha mencari ‘pengetahuan tertinggi’ tentang ‘kebenaran sejati’. Penggambarannya dalam 460 panel didasarkan pada kitab suci Buddha Mahayana yaitu kitab Gandavyuha dan pada bagian terakhir (penutup) diambil dari cerita dari kitab Bhadracari.

Yang Tersembunyi dan Yang Hilang
            Di ranah Kamadhatu, beberapa relief Karmawibhangga menggambarkan hawa nafsu manusia, seperti perampokan, pembunuhan, penyiksaan dan penistaan. Relief Karmawibhangga ini tak hanya menggambarkan perbuatan jahat tetapi juga menggambarkan ajaran karena akibat dari perbuatan bagus. Pengunjung Borobudur tak bisa menyaksikan relief ini Selain hanya beberapa kecil di salah satu sudut, karena relief ini tertutup oleh batu Yzerman.
Pemerintah Hindia Belanda mempertahankan batu penutup ini karena memandang relief Karmawibhangga sebagai tabu, meskipun relief ini sebetulnya merupakan suatu ajaran yang mempunyai nilai tinggi, karena tak hanya menggambarkan perbuatan jahat tetapi juga menggambarkan ajaran karena akibat dari perbuatan bagus, serta potongan-potongan cerita yang berisi kisah-kisah yang di antaranya menggambarkan perilaku masyarakat Jawa pada masa lalu, meliputi perilaku keagamaan, mata pencaharian, struktur sosial, tata busana, peralatan hidup, Macam-Macam flora dan fauna dan sebagainya.

sekiranya pengunjung bisa menyaksikan relief Karmawibhangga ini mereka akan bisa mempelajari dan mengambil nilai-nilai serta pesan-pesan dari Karmawibhangga, bahkan bisa membandingkannya dengan relief-relief yang terdapat di Candi Kajuraho di India yang mendapat julukan sebagai the most erotis temple in the world.

Masih banyak misteri yang menyelimuti Candi Borobudur, antara lain tentang danau purba yang mengitarinya, dan bagaimana teknik pembangunannya, terpenting tentang teknik pengangkatan bungkahan-bungkahan batu besar ke puncak candi setinggi 42 m. Selain itu, di dalam dhagoba juga ada misteri yang masih belum tersingkap terang hingga sekarang. Apakah benar dalam dhagoba terdapat rapang Adhibuddha yang belum selesai (unfinished Buddha), atau rapang emas yang kemudian berada di Thailand, atau kosong sama sekali?

Banyak pula yang telah hilang dari Candi Borobudur, dari 504 rapang Buddha, 43 rapang telah hilang, dan 300 rapang dalam situasidianalisis rusak, kebanyakan tanpa kepala. Yang betul-betul memprihatikan yaitu hilangnya pengetahuan dan teknik pembuatan vajra lepa. Dari unsur-unsur apa vajra lepa diwujudkan dan bagaimana teknik pembuatannya?

referensi
Afrianti, Dwi, Hal Ihwal Candi Borobudur; Filosofi, Sejarah, dll.
Gunawan, Irwan, ‘Desertasi Mengungkap Asal-usul dan Pembangunan Borobudur’, Kompas, http://print.kompas.com/baca/2015/06/02/Desertasi-Mengungkap-Asal-usul-dan-Pembangun-Borob.
http://id.wikipedia.org/wiki/Borobudur (diunduh, 15/06/2015: 14.32).
http://www.indonesia.travel/id/destination/233/borobudur/article/202/membaca-ribuan-panil-relief-pada-candi-borobudur.
Jeffry, Handoyo El, Borobudur: Folosofi dan Sejarah yang Terkubur. 20 Juli 2012.
Pratama, Ganang Nur, Candi Borobudur Yogyakarta. 5 Oktober 2014.
Putra, Resha Permana, Kisah Borobudur. Blog, 08 November 2012.
Siputro, Relief Borobudur; Buku Kehidupan Manusia Jawa Kuno, 12-08-2014.
Soediman, Drs., Glimpses of The Borobudur. Jogjakarta: Kanisius, 1968.


by : Haidlor Ali Ahmad

Mata Dunia

Sejarah Lainnya:

sejarah corel draw x6 dan penemunya dalam bahasa inggris