Sejarah dan Pengaruh Penjajahan Inggris di Malaysia

Artikel ini akan berisi tentang pembahasan mengenai sejarah penjajahan inggris di malaysia serta pengaruh inggris kepada kehidupan agama islam dan kristen di malaysia. Malaysia merupakan sebuah negara federasi yang terdiri dari tiga belas negara bagian dan tiga wilayah persekutuan di Asia Tenggara dengan laus 329.847 km persegi, ibu kotanya merupakan Kuala Lumpur, Meski Putrajaya menjadi pusat pemerintahan perseketuan. Negara ini di pisahkan kedalam dua wilayah Malaysia Barat dan Malaysian Timur. Sebelum terbentuknya negara Malaysia pada tahun 1963, dijazirah malaysia berdiri beberapa negara kecil terbentuk kesultanan, mereka bergabung kedalam persekutan tanah melayu yang berada di bawah kekuasaan Inggris.[1]

Sejak dikala itu Semenajung melayu berubah menjadi pusat rumah Bordil di Asia Tenggara ketika bangsa Eropa mulai perdagangan mereka melewati Selat Malaka. Banyak kerajjan awl berdiri pada abad ke 45 berasal dari pelabuhan, termaksuk Langkasuka dan Lembah Bujangkau di Kedah, beruas dan Gangga Negara di Perak dan pan Pan di kelantan – Sejarah Penjajahan Inggris di Malaysia. Pada awal abad ke 5, kesultanan malaka didirikan dan kemakmuran ekonominya menarik minat besar dari Protugis, Belanda,dan Inggris.[2]

Sejarah malaysia dikatakan bermula semenjak pada zaman Kesultanan Melayu Melaka yaitu sekitar tahun 1400 masehi. Pada masa kegemilanganya, wilayah kesultanan ini meliputi beberapa besar semenanjung dan pantai timur sumatra. Melaka timbul sebagai sebuah kerajjan gemilang karena kedudukanya yang strategi yaitu spot pertemuan antara Asia Timur dengan Asia Barat.

Keadaan ini membolehkan melaka timbul sebagi pusat prdagangan utama khususnya bagi perdagangan remapah di Asia tenggara. Pada tahun 1511, melaka jatuh ketangan protugis dan bermula dari pada tahun inilah tanah melayu berada dalam era penjajahan, selepas itu tanah melayu jatuh ketangan belanda pada tahun 1641 dan akhirnya jatuh pula ketangan Britania pada tahun 1924 melalui perjanjaian Inggris-Belanda. Perjanjian Britania merupakan penjajahan yang paling lama.[3]

Britinia Raya atau inggrs mendirikan kolonial pertamanya di Semenanjung malaya pada Tahun 1786, dengan penyewaan pulau penang kepada perusahaan india timur britinia oleh sultan kedah. Pada tahun 1824, Britinia Rya menguasai Melaka setelah menandai tanganainya Traktak London atau perjanjian Britinia-Belanda pada tahun 1824 yang membagi kepemilikan Nusantara kepada Britania dan Belanda. Malay untuk Britania dan Indonesia untuk Belanda. [1]

Pada tahun 1867 inggris menjadi semakin agresif dan mulai menghasut para raja kerajaan melayu,akibat perang saudara dan gangguan persatuan antar China,Inggris dipilih untuk menyelesaikan masalah-masalah penduduk negeri selat. Akhirnya, perjanjain pangkor ditanda tangani dan mengakibatkan perluasaan kekusaan inggris ke negeri-negeri melayu yaitu perak,pahang, selangor dan negeri sembilan yang juga diketahui sebagai negeri-negeri bersekutu. Negeri-negeri lain yang dikenali sebai nehgeri-negeri tak bersekutu lagi ialah perlis,kedah,kelantan dan terenganu yang berAda di bawah kekuasaan Thiland. [2]

Dan penjajhan Inggris pun dimalaysia dimulai pada abad ke-18,ketika inggris mencoba mengambil kekuasaan dengan memperalat raja-raja Malaysia. Kekuasaan inggris ditandai dengan dikuasainya Pulau Penang pada tahun 1789. Inggris terus Melaksanakan politik adu domba guna meperluas kekusaannya. Politik ini telah mengakibat bebrapa perang antar raja-raj kecil disana. Perang Pening merupakan salah satu kelicikan Inggris sebagai upaya perluasan kekuasaan wilayahnya. tak hanya mengadu domba antar raja, Inggris juga Melaksanakan adu domba dlik perebutan tahtaikalangan istana Raja,hingga menimbulkan konflik antardidaera raja ismail yang merupakan sultan di daerah Perak dengan raja Abdullah. Pada upaya adu domab ini, inggis berhasil menempatkan sseorang residennya di daerah pangkor pada tahun 1874.[4]

Dan akhirnya kemerdekaan dicapai pada 31 agustus 1947 dengan nama Fedrasi Malaya. Singapura yang masih berda di bawah kekuasaan britania raya, pada dikala itu karena letaknya yang strategis. Pada tanggal 16 september 1963, federasi Malaya bersama-sama dengan kolonial mahkota Britania yaitu Sabah,Serawak, dan Sinagpura, memebentuk Malaysia.[2]

Meski telah memperoleh kemerdekaanya dari inggris 1947,penagruh politik Inggris masi terasa di malaysia. Pengaruh sekuralisme di masa di penjajahan telah menjadikan rakyat malaysia inn mulai individulis dan mulai mengenal liberal. tak hanya itu mereka juga menganut sistem hidup hedonisme.[4]

Pada dasarnya modernisme yang diterapakan Inggris di Malaysia langsung menyentuh agama karena justru agamalah yang mencakup seluruh aspek kehidupan. Inggris menggunakan konsep neutral yang berarti tak ikut campur tangan. Akan tetapi, pada dasarnya konsep yang diterapkan oleh Inggris hal yang demikian berarti menghambat keberlanjutan proses Islamisasi (de-Islamisasi) dan memperlancar proses Kristenisasi. Inggris menggunakan konsep hal yang demikian pada perundangan, pendidikan, dan sosial-budaya.

Dalam bidang perundangan, tindakan Inggris dimalai pada Perjanjian Pangkor 1874. Inggris tak menjalankan isi dari perjanjian hal yang demikian secara semestinya. Perjanjian hal yang demikian mengisyaratkan bahwa kekuasaan raja terbatas pada agama dan adat saja, Meski beragam aspek kehidupan lainnya berada dibawah kekuasaan residen. Dalam kenyataannya, inggris masih ikut campur tangan dalam urusan agama yang hakekatnya merupakan hak raja. Inggris turun langsung dalam kerja para komite yang mengurusi masalah agama.

Inggris mengesahkan Mohammedan Marriage Ordinances yang merupakan undang-undang perkawinan dengan menyempitkan peran Islam didalamnya pada 1880 bagi Negeri-Negeri Selat. Undang-undang hal yang demikian kemudian diperluas cakupan wilayahnya bagi Negeri-Negeri Melayu Bersekutu pada 1900 yang ditandai dengan disahkannya Mohammedan Marriage Ordinances and Divorce Registration Enactment 1900. Berlakunya undang-undang hal yang demikian sekali lagi diperluas untuk Negeri-Negeri Melayu tak Bersekutu setelah ditandatanganinya Perjanjian Inggris-Siam 1909.

Perundangan yang diterapkan Inggris semakin mengalami perkembangan. Hal ini ditunjukkan dengan disahkannyaMohammedan Laws Enactment 1904 dan Mohammedan Offences Bill pada 1938. Didalam tata tertib hal yang demikian terdapat hukuman bagi orang-orang yang Melaksanakan kekeliruan. beragam hal bisa dijadikan seseorang memperolah sebuah hukuman. Diantaranya merupakan tak menunaikan Sholat Jum’at, makan di tempat biasa pada bulan Ramadhan, minum arak di tempat biasa, berzina dengan sesama muslim, mengajar tanpa izin resmi dari petinggi bidang keagamaan, dan mencetak kitab tanpa seizin pihak berkuasa. Undang-undang hal yang demikian semakin diperluas secara bertahap untuk Negeri-Negeri Melayu tak Bersekutu. Inggris juga mengatur sistem wakaf, haji, ataupun zakat.

Warisan perundangan Inggris hal yang demikian masih tetap dipertahankan. Peran Islam dalam perundangan sering dipinggirkan. Salah satu bukti bahwa warisan penjajah hal yang demikian masih tetap dipertahankan merupakan Akta Undang-Undang Sipil yang pada 1956 yang merujuk kepada common Law of England. Undang-undang ini menjadi penghalang utama bagi pelaksanaan undang-undang Islam di Malaysia – Pengaruh Penjajahan Inggris di Malaysia. Selama undang-undang hal yang demikian berlaku, undang-undang Islam pun tak bisa dilaksanakan.

Bidang pendidikan juga tak luput dari perhatian dan pengaruh dari pihak penjajah. Sekularisasi juga diterapkan dibidang ini. Pelajaran tentang ilmu-ilmu Islam sebisa mungkin direduksi oleh penjajah. Raffles menjadi tokoh penting dalam kebijakan ini. Pelajaran Al-qur’an secara bertahap mulai dikurangi keberadaannya. Hal hal yang demikian menimbulkan pertentangan tersendiri dikalangan masyarakat. Penjajah mengangkat Pengawas Sekolah-sekolah Melayu di Negeri-negeri Selat yang menyebabkan masyarakat enggan memasukkan anak-anaknya ke sekolah-sekolah Melayu atau Inggris karena dianggap kafir. Demi menggalakkan anak-anak Melayu agar tetap bersekolah, pihak penjajah memasukkan pelajaran Al-Qur’an dengan beberapa syarat. Pelajaran Al-Qur’an mesti dipisahkan dari pelajaran bahasa Melayu dan diajarkan pada siang hari selepas pelajaran bahasa Melayu. Bukan hanya itu saja, gaji guru Al-Qur’an mesti dibayar oleh orang tua murid sendiri.

Politik yang dijalankan penjajah hal yang demikian tak menghalangi para orang tua untuk menyekolahkan anak mereka di sekolah Melayu. Walaupun dilaksanakan di siang hari dan tanpa gaji dari pemerintah, mereka tetap setuju asalkan pelajaran Al-Qur’an masih merupakan pelajaran di sekolah. Akan tetapi, dalam perkembangannya sistem ini mulai dihapuskan. Winstedt yang berkedudukan sebagai Penolong Pengarah Pelajaran mengusulkan agar kelas Al-Qur’an dihapuskan. Menurutnya, kedudukan pelajaran Al-Qur’an sebagai pendorong orang tua untuk menyekolahkan anak-anak mereka di sekolah Melayu sudah tak penting lagi. Pelajaran Al-Qur’an mengalami pengasingan dari pelajaran yang lainnya. Nilai pelajaran ini tak dicampurkan dengan pelajaran lain. Dalam ijazah, nilai pelajaran Al-Qur’an juga tak diikutsertakan. Hanya diberikan sebuah sertifikat untuk menandai berhasil atau tidaknya pelajarn ini.

Hanya terdapat sedikit perkembangan kepada pelajaran Al-Qur’an. Hal hal yang demikian terjadi pada dekade terakhir dari masa penjajahan. Perkembangan positif ini dimulai dengan dibangunnya Sekolah Tinggi Islam di Kelang. disusun juga sebuah panitia untuk mendirikan Sekolah Tinggi Islam Malaya atas inisiatif dari Persekutuan Seruan Islam Se-Malaya dan pada 25 Februari 1955 pembangunan dimulai. hakekatnya Barnes yang juga bergabung dengan kaum penjajah telah mengusulkan untuk memasukkan pelajaran Islam dengan pelajaran lain. Namun usul hal yang demikian hanya terbatas pada sebuah laporan yang tak memperoleh tanggapan dari pihak penjajah sendiri.

Berbeda halnya dengan agama Islam yang memperoleh tekanan dari kaum penjajah, agama Kristen mengalami hal yan sebaliknya. Telah disebutkan bahwa salah satu tujuan kedatangan bangsa barat merupakan untuk menyebarkan ajaran agama (gospel) yang dianutnya. Pihak penjajah menyokong kegiatan penyebaran Kristen disana. Pihak penjajah tak menjadikan orang-orang Melayu Islam sebagai target, tetapi orang-orang yang bukan beragama Islam. Orang-orang Islam tetap saja merasakan akibat tak langsung dari kegiatan hal yang demikian. Hal hal yang demikian dibuktikan dengan adanya segelintir orang Melayu yang menjadi Kristen. Akan tetapi, sama halnya dengan agama Islam, agama Kristen juga tak diperbolehkan mengganggu urusan politik.

Gerakan Kristenisasi di Malaysia hakekatnya telah dimulai sejak masa penjajahan Portugis. Sebagai bukti telah dibangun 19 buah gereja, chapel, dan cathedral dengan penganut 20.000 orang, walaupun pada dikala itu bukan Kristen melainkan agama Katholik yang disebarkan. Dengan kejatuhan Portugis atas Belanda, hal ini mengancam keberadaan agama Katholik. Benar saja, gereja-gereja Katholik diubah menjadi gereja Protestan walaupun Belanda sendiri kurang begitu giat dalam usaha penyebaran hal yang demikian.

Pesatnya kemajuan Kristenisasi dilaksanakan oleh Inggris pada abad ke-18. Inggris Melaksanakan beragam cara guna memudahkan ambisinya hal yang demikian. Terdapat beragam organisasi Kristen dengan mahzab-mahzab tertentu yang berusaha menyebarkan Kristen secara lisan. Para Missionaris mengunjungi orang atau tempat-tempat tertentu. Pemerintah jajahan mendirikan de la Salle Brothers dan Sisters of the Holy Infant Jesus yang merupakan badan missionaris sekaligus organisasi pendidikan dan perguruan. Salah satu badan Kristen yang terpenting merupakan London Missionary Society.

Usaha para missionaris dalam menjalankan kegiatannya dilaksanakan dengan cara menerbitkan dan menyebarkan risalah-risalah Kristen dalam beragam bahasa. Cara ini juga disebut silent missionary. Kitab Injil mulai diterjemahkan kedalam bahasa Melayu dan diterbitkan. Selain itu, Old Testament (perjanjian lama) juga diterbitkan oleh Shellaber pada 1909.

Sarana utama penyebaran agama Kristen hakekatnya Berlokasi pada bidang pendidikan seandainya diperbandingkan dengan bidang lainnya seperti sosial dan ekonomi. Hal hal yang demikian terjadi seiring dengan perkembangan pendidikan sekular Inggris sendiri. Banyak didirikan badan Kristen, antara lain merupakan London Missionary Society, American Board of Commisioners for Foreign Missions, dan The Episcopal and Methodist Missionary. Dengan didirikannya beragam sekolah missionari hal yang demikian, langkah Kristenisasi semakin mudah. Mereka tak perlu bersusah payah mengunjungi masyarakat yang akan diberi pengaruh.

Bidang sosial juga dimanfaatkan para missionaris untuk menyebarkan ajaran Kristen. Mereka mendirikan rumah-rumah yatim seperti St. Francis Xavier’s Orphanage di Pinang dan St. Francis Orphanage di Malaka. Pusat-pusat kesehatan dan rumah sakit juga didirikan. Pada 1911 misalnya telah berdiri Medical Missions di Malaka yang berhasil mendirikan pusat-pusat pengobatan dan klinik kesehatan. Salah satu yang terkenal merupakan Rumah Sakit Lady Templer di Cheras dan Rumah Sakit Assunta di Petaling Jaya. Dengan jalan hal yang demikian misi yang merekan jalankan seakan memperolah jalan yang semakin mudah untuk dilalui.

Para missionaris bisa dikatakan cukup jeli dalam memanfaatkan celah untuk Melaksanakan kegiatannya. Bidang ekonomi juga dijadikan sarana untuk menyebarkan ajaran Kristen. Hal ini terlihat terlebih pada bidang pertanian. Kegiatan mereka dalam hal ini bertumpu kepada kaum India dan Melayu. Berdiri sebuah badan yang bernama London Missionary Societyyang membuka lahan-lahan pertanian baru walaupun kurang berhasil.

Modernisasi yang dilaksanakan oleh kaum penjajah mengakibatkan beragam kegiatan yang dilaksanakan oleh masyarakat semakin bersifat sekuler. Terjadi perubahan-perubahan nilai menuju ke hal-hal yang bersifat individualisme, liberalisme, dan hedonisme. Sifat-sifat hal yang demikian mulai melahirkan beragam penyakit masyarakat. Misalnya saja individualisme akan menyebabkan kerenggangan dengan keluarga yang juga memudahkan seseorang untuk terjebak kedalam kemaksiatan.

Industri hiburan yang berbau sekular semakin bermunculan. Masyarakat semakin bersifat kekotaan. Budaya hal yang demikian semakin mendorong seseorang bukan saja bersifat sekular dan kebendaan, tetapi juga mementingkan perasaan dan hawa nafsu saja. Dengan adanya beragam hiburan, masuknya budaya barat yang sekular semakin mudah dan bercampur dengan budaya kaum Melayu yang kebanyakan beragama Islam.

Kaum penjajah dengan sikap dualismenya juga berusaha untuk menampilkan kebudayaan Melayu disamping melaksanakan modernisasi. Hal ini hakekatnya dimaksudkan oleh penjajah sebagai sarana untuk mengalihkan perhatian umat Islam agar tak menggali nilai-nilai lama Islam. Tentu nilai-nilai pra-Islamlah yang akan mereka kenang. Dengan demikian mereka sedikit demi sedikit akan terlepas dari akar budaya Islam.

beragam bukti diatas menunjukkan bahwa penjajahan Inggris sungguh-sungguh berpengaruh kepada kehidupan beragama di Malaysia, Sejarah dan Pengaruh Penjajahan Inggris Di Malaysia. Pada masa penjajahan, Islam semakin memperoleh tekanan dan sebaliknya Kristen mengalami kemajuan. Kebijakan-kebijakan yang dikeluarkan dimaksudkan untuk memudahkan keinginan hal yang demikian.

Memang agama menjadi bagian penting dari tujuan bangsa-bangsa barat untuk Melaksanakan penjajahan di Asia Tenggara. Sikap yang selektif sebisa mungkin mesti diterapkan guna menyaring kebudayaan-kebudayaan barat mana yang layak dengan Islam ataupun yang tak. Dengan demikian nilai-nilai Islam yang merupakan nilai yang telah melekat pada kaum Melayu tetap bisa dilestarikan.[5]

Daftar pustka

[1] Http://davidhaho.blogspot.com/2012/05/inggris-di-malaysia.html

[2] http://wikipedia.org/wiki/Sejarah_Malaysia

[3] http://pmr.penerangan.gov.my/index.php/profil-malaysia/7954-ringkasan-sejarah- malaysia.html

[4] http://www.bimbingan.org/penjajahan-malaysia.htm

[5] Abdul Rahman Haji Abdullah. Penjajahan Malaysia Cabaran dan Warisannya. Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 1997.

Sejarah Lainnya:

sejarah kelahiran peekumpulan pemuda kristen, makalah tentang penghentian konfrontasi indonesia dengan malaysia, relief tradisi nusantara sebelum islam