Sejarah Halloween

Sejarah Halloween – Apa Itu Halloween? Halloween merupakan sebuah liburan yang tak bersifat keagamaan, yaitu sisa-sisa dari perayaan festival panen tradisional dengan banyak kebiasaan khas seperti mengenakan kostum, trick or treating, jebakan dan bayangan dekoratif berdasarkan perubahan musim, kematian dan hal-hal gaib. Halloween Diperingati pada 31 Oktober.
Walaupun ini dilaksanakan hingga beberapa dekade terakhir pada abad ke 20 bertepatan dengan liburan anak-anak, di tahun-tahun terkahir banyak kegiatan seperti pesta kostum, dekorasi bertema dan sekalipun trick or treating telah berkembang pesat dan di kenal dikalangan orang dewasa juga, membuat halloween sebuah perayaan segala umur.

Sejarah Halloween
Nama halloween (semula di eja Hallowe’en) merupakan sebuah singkatan dari segala malam keramat (All Hallows Eve), artinya hari sebelum segala hari keramat (sekarang lebih diketahui sebagai hari segala orang suci), sebuah liburan katolik memperingati orang suci kristen dan pengamatan martir semenjak awal abad pertengahan.

Sejarah Halloween
Sejarah Halloween

berdasarkan buki terbaik yang ada, halloween berdasar dari pengamatan Katolik dimalam segala hari suci, 1 November pada awal abad pertengahan. Sudah menjadi rahasia lazim untuk mengusut akarnya sekalipun kembali pada waktu festival peyembahan berhala di Irlandia purba diketahui sebagai Samhain (Dilafalkan sow’-en atau sow’een) yang sedikit diketahui. Penelitian prasejarah mengatakan mempunyai tanda diakhir musim panas dan pada musim salju dan dirayakan dengan pesta, api unggun, persembahan korban, dan penghormatan ke kematian.

Meskipun kesamaan tematik, ada sedikit bukti dari tiap kelanjutan sejarah nyata menghubungkan Samhain ke abad pertengahan pada penelitian Halloween, namun. Beberapa sejarawan modern terlebih Ronald Hutton (The Stations Of The Sun: A History Of The Ritual Year In Britain, 1996) dan Steve Roud (The English Year, 2008, and A Dictionary Of English Folkfore, 2005), dengan tegas menolak gagasan bahwa gereja menamai tanggal 1 November sebagai hari segala orang suci untuk “mengkristenkan” liburan penyembah berhala. Mengutip sebuah kekeliruan dari bukti sejarah, Roud pergi terlalu jauh untuk menolak teori Samhain.

“Tentu festival Samhain, berarti akhir musim panas, sejauh ini merupakan yang paling penting dari empat hari dalam kalender kuartal Irlandia abad pertengahan, dan ada perasaan bahwa ini merupakan tahun dimana dunia fisik dan dunia gaib dekat dan hal ajaib bisa terjadi.” Roud mencatat. “Namun bukti kuat di Irlandia, Wales merupakan 1 Mei dan Tahun Baru yang diutamakan, di Skotlandia hampir tak pernah menyebutkan tentang ini hingga lama kemudian dan di Anglo-Saxon Inggris bahkan lebih jarang.

Tampak masuk akal untuk menyimpulkan bahwa hubungan antara Festival Halloween dan penyembah berhala Irlandia dari Samhain mendapati, pada akhirnya, telah dilebih-lebihkan di akun paling modern dari asal hari besar.

Awal kebiasaan didokumentasikan disebabkan Halloween tumbuh dari dua perayaan yaitu “Hari segala Orang Suci” (1 November), satu hari berdoa untuk orang-orang suci dan martir gereja, dan “Hari Seluruh Jiwa” (2 November), satu hari berdoa untuk segala jiwa orang mati. Antara praktek hal yang demikian terkait dengan Halloween selama abad pertengahan merupakan cahaya dari api unggun, terbukti untuk simbol penderitaan dari jiwa yang tersesat di api penyucian jiwa, dan Penjiwaan yang terdiri dari pergi pintu ke pintu menawarkan doa untuk mati di pertukaran, untuk kue jiwa (soul cakes) dan kesenangan lainnya. Permainan Rakyat, (Mumming) kebiasaan semula terkait dengan natal terdiri dari parade kostum, nyanyian sajak dan drama merupakan beberapa tambahan pada Halloween dikala ini.

Lagi, namun, meskipun terang kesamaan antara yang lama dan yang baru boleh jadi berlebihan mengatakan kebiasaan abad pertengahan ini “bertahan” hingga dikala ini, atau bahkan bahwa mereka “berevolusi” menjadi modern. Praktek halloween seperti trick or treating pada waktu imigran irlandia membawa festival ke Amerika Utara pada pertengahan 1800s, Mumming dan Souling terlupakan di Irlandia sendiri, dimana diketahui kebiasaan Halloween terdiri dari berdoa, pesta rakyat, dan bermain permainan firasat seperti bobbing for apples.

Yang bersifat duniawi, mengomersilkan hari besar yang kami tahu di Amerika sekarang akan menjadi hampir tak dikenali perayaan halloween bahkan hanya satu abad yang lalu.


Sedangkamng berdasarkan Wikipedia, Sejarah Hallowen yaitu:

Sejarah Halloween berdasarkan Wikipedia

Pengaruh Wales dan Gaelik
Adat dan kebiasaan Halloween masa kini diperkirakan telah diberi pengaruh kepercayaan dan adat istiadat masyarakat di negara-negara berbahasa Kelt, yang mana beberapa di antaranya diyakini mempunyai dasar pagan. Jack Santino, seorang folkloris, menuliskan bahwa “di seluruh Irlandia terjadi suatu kesepakatan yang meresahkan antara adat istiadat dan keyakinan yang berhubungan dengan Kekristenan dengan segala hal terkait agama-agama Irlandia sebelum masuknya Kekristenan”. Sejarawan Nicholas Rogers, dikala menelusuri asal mula perayaan Halloween, mencatat bahwa meskipun “beberapa folkloris telah mendeteksi asal mulanya dalam perayaan Romawi kuno Pomona, dewi buah-buahan, atau dalam festival orang mati disebut Parentalia, namun perayaan hal yang demikian secara lebih khusus dikaitkan dengan festival Kelt Samhain”, yang mana berasal dari bahasa Irlandia Kuno untuk “akhir musim panas”. Samhain (dilafalkan sah-win atau sow-in) merupakan hari yang pertama dan terpenting dari keempat hari-hari kuartal dalam kalender Gaelik abad pertengahan dan dirayakan di Irlandia, Skotlandia, dan Pulau Man. Perayaan dilangsungkan pada atau sekitar tanggal 31 Oktober – 1 November dan suatu festival bagi kaum keluarga diselenggarakan pada waktu bersamaan oleh kaum Kelt Britonik; disebut Calan Gaeaf di Wales, Kalan Gwav di Cornwall, dan Kalan Goañv di Bretagne. Bagi kaum Kelt, hari dimulai dan diakhiri dikala matahari terbenam; karenanya, berdasarkan perhitungan modern, festival dimulai pada petang hari menjelang tanggal 1 November. Samhain dan Calan Gaeaf disebutkan dalam beberapa literatur tertua dari Irlandia dan Wales. Nama-nama hal yang demikian telah digunakan oleh para sejarawan untuk merujuk pada adat istiadat Halloween Keltik hingga pada abad ke-19, dan hingga kini masih digunakan sebagai nama-nama Gaelik dan Wales untuk menyebut Halloween.

Samhain/Calan Gaeaf menandai akhir musim panen dan awal musim dingin atau ‘paruh yang lebih gelap’ dari suatu tahun. Sama seperti Belatane/Calan Mai, perayaan itu dilihat sebagai suatu waktu ambang, ketika batas antara dunia ini dan Dunia lain menipis. Hal ini berarti Aos Sí (dilafalkan ees shee), para ‘roh’ atau ‘peri’, bisa lebih mudah datang ke dunia ini dan pandangan ini benar-benar diyakini mereka. Kebanyakan akademisi memperhatikan Aos Sí sebagai “versi-versi terdegradasi dari para dewa kuno yang mana pengaruhnya masih kuat di dalam benak masyarakat sekalipun telah secara resmi digantikan dengan keyakinan agama setelahnya”. Aos Sí dihormati sekaligus ditakuti, bahkan orang-orang seringkali memohon perlindungan Allah ketika pulang ke tempat tinggal mereka. dikala perayaan Samhain, diyakini bahwa Aos Sí perlu ditenangkan untuk memastikan bahwa masyarakat dan ternak mereka bisa bertahan dalam musim dingin. Persembahan makanan dan minuman, atau beberapa hasil panen, ditinggalkan di luar untuk Aos Sí. Jiwa-jiwa orang yang telah meninggal juga dikatakan mengunjungi kembali rumah mereka untuk meminta keramahtamahan. Tempat-tempat telah diatur di meja makan dan dekat perapian untuk menyambut mereka. Keyakinan bahwa jiwa-jiwa orang yang telah meninggal kembali ke rumah pada suatu malam dalam setahun, dan wajib ditenteramkan, tampaknya berasal dari adat istiadat kuno dan ditemukan dalam banyak budaya di seluruh dunia. Di Irlandia abad ke-19, “lilin-lilin akan dinyalakan dan doa-doa secara resmi didaraskan bagi jiwa-jiwa orang yang telah meninggal. Setelah itu acara makan, minum, dan permainan akan dimulai”.

Di seluruh Irlandia dan Britania, perayaan dalam rumah tangga meliputi ritual dan permainan yang dimaksudkan untuk meramal masa depan seseorang, khususnya sehubungan dengan kematian dan pernikahan. Kacang-kacangan dan apel seringkali digunakan dalam ritual penenungan ini. Ritual-ritual itu misalnya apple bobbing, menatap bola kristal atau cermin, menuangkan lelehan timbal atau putih telur ke dalam air, dan interpretasi mimpi. Api unggun besar yang istimewa dinyalakan dan berlangsung ritual-ritual yang melibatkannya. Abu, asap, dan nyala apinya dianggap mempunyai kuasa pembersihan dan perlindungan, dan juga digunakan untuk menenung. Di beberapa daerah, obor yang dinyalakan dari api unggun itu dibawa mengelilingi rumah dan kebun searah pergerakan matahari dengan harapan mendapat perlindungan.Ada kesan bahwa api hal yang demikian merupakan semacam sihir simpatik atau tiruan –sebagai tiruan Matahari, membantu “kekuatan pertumbuhan” dan menahan kerusakan serta kegelapan musim dingin. Di Skotlandia, permainan tenung dan api unggun ini dilarang oleh para presbiter gereja di sejumlah paroki.Di kemudian hari api unggun ini digunakan untuk “menjauhkan diri dari iblis”.

Sejak setidaknya abad ke-16, permainan sandiwara bisu dan penyamaran (guising) disertakan dalam festival hal yang demikian di Irlandia, Skotlandia, Pulau Man, dan Wales. Dalam permainan ini orang-orang berjalan dari rumah ke rumah dengan mengenakan kostum (atau menyamar), dan biasanya melantunkan syair atau nyanyian untuk memperoleh makanan. Itu mungkin dikarenakan pada mulanya merupakan suatu adat istiadat di mana orang-orang menyamar sebagai Aos Sí, atau jiwa-jiwa orang yang telah meninggal, dan mendapatkan persembahan atas nama mereka, serupa dengan kebiasaan souling. Menirukan makhluk-makhluk ini, atau mengenakan samaran, juga diyakini bisa melindungi diri sendiri dari mereka.[ Ada pendapat bahwa para pemain sandiwara bisu dan penyamar “menjelma menjadi roh-roh lama musim dingin, menuntut imbalan demi keberuntungan”. Di beberapa bagian Irlandia selatan, para penyamar menyertakan kuda hobi. Seorang laki-laki berpakaian seperti Láir Bhán (kuda betina putih) dan memimpin anak-anak muda berkeliling dari rumah ke rumah untuk melantunkan syair —beberapa di antaranya mengandung nada-nada tambahan pagan— demi imbalan makanan. apabila suatu rumah tangga menyumbangkan makanan maka mereka bisa mengharapkan keberuntungan dari ‘Muck Olla’ hal yang demikian; apabila tak maka akan membawa kemalangan. Di Skotlandia, kaum muda pergi dari rumah ke rumah dengan topeng, wajah dicat atau dihitamkan, seringkali mengancam untuk Menjalankan kenakalan apabila mereka tak disambut dengan bagus.

F. Marian McNeill berpendapat bahwa festival kuno yang melibatkan orang-orang dalam kostum hal yang demikian mewakili roh-roh, dan wajah ditandai (atau dihitamkan) dengan abu yang diambil dari api unggun sakral. Di beberapa belahan Wales, laki-laki yang berpakaian seperti makhluk menakutkan disebut gwrachod. Pada akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20, orang-orang muda di Glamorgan dan Orkney berlintas-busana. Di bagian lain Eropa, bermain sandiwara bisu dan kuda hobi merupakan bagian dari festival-festival tahunan lainnya. Namun di daerah berbahasa Kelt “secara khusus cocok untuk suatu malam di mana para makhluk gaib dikatakan pergi mengembara dan bisa ditiru atau dihindari oleh para pengembara manusia”.Sejak setidaknya abad ke-18, “meniru roh-roh ganas” mengarah pada permainan lelucon di dataran tinggi Skotlandia dan Irlandia.Mengenakan kostum dan bermain lelucon dikala Halloween menyebar ke Inggris pada abad ke-20.Bagi yang bermain samaran dan lelucon di luar rumah pada waktu malam, sebagai penerangan tradisional di beberapa tempat digunakan lentera dari turnip atau mangelwurzel yang dilubangi dan seringkali diukir hingga berupa wajah aneh. Oleh mereka yang membuatnya, lentera hal yang demikian dikatakan mewakili roh-roh, atau digunakan untuk menangkal roh-roh jahat. Hal ini lazim di beberapa dataran tinggi Skotlandia dan Irlandia pada abad ke-19, serta di Somerset (lihat Malam Punkie). Kemudian pada abad ke-20 menyebar ke bagian lain dari Inggris dan menjadi diketahui secara lazim sebagai jack-o’-lantern.

Pengaruh Kekristenan
Adat dan kebiasaan Halloween masa kini juga diduga telah diberi pengaruh oleh praktik dan dogma yang berasal dari Kekristenan. Halloween merupakan malam sebelum hari suci Kristen Hari Para Kudus (All Hallows’ Day), yang juga disebut Hari segala Orang Kudus (All Saints’) atau Hallowmas, tanggal 1 November dan Hari segala Jiwa (All Souls’ Day) tanggal 2 November, sehingga tanggal 31 Oktober yang merupakan hari libur di beberapa negara ini secara lengkap dinamakan Malam Para Kudus (All Hallows’ Eve, yaitu malam sebelum All Hallows’ Day). Sejak zaman Gereja perdana,dalam perayaan besar Kekristenan (seperti Natal, Paskah, dan Pentakosta) dilangsungkan vigili yang dimulai pada malam sebelumnya, dan demikian juga dengan Hari Para Kudus. Ketiga hari pada masa hal yang demikian secara kolektif disebut Masa Para Kudus (Allhallowtide) dan merupakan suatu masa untuk menghormati orang-orang kudus, serta berdoa bagi jiwa orang yang telah meninggal yang belum meraih Surga. Peringatan segala orang kudus dan martir diadakan oleh sejumlah gereja pada beraneka tanggal, terlebih dikala musim semi. Pada tahun 609 atau 610, Paus Bonifasius IV mendedikasikan Pantheon di Roma bagi St. Maria dan segala Martir pada tanggal 13 Mei. Tanggal itu bertepatan dengan Lemuria, suatu festival arwah dalam adat istiadat Romawi kuno, serta tanggal yang sama dengan peringatan lazim para Santo/Santa yang berlangsung di Edessa pada zaman Efrem.

Pesta segala Orang Kudus, pada tanggalnya sekarang dalam Gereja Barat, bisa ditelusuri dari pendirian suatu oratorium di Basilika Santo Petrus Lama oleh Paus Gregorius III (731–741) bagi relikui-relikui “dari para rasul suci dan segala orang kudus, martir, serta pengaku iman”. Pada tahun 835 tanggal perayaan ini secara resmi dipindahkan ke 1 November, tanggal yang sama dengan Samhain, atas perintah dari Paus Gregorius IV. Beberapa kalangan berpendapat bahwa hal ini disebabkan oleh pengaruh bangsa Keltik, Meski yang lainnya mengatakan bahwa ini merupakan gagasan bangsa Jermanik,  kendati terdapat klaim bahwa bagus mereka yang berbahasa Keltik ataupun Jermanik memperingati orang meninggal pada awal musim dingin. Mereka mungkin menganggap hal itu sebagai dikala yang paling tepat untuk melakukannya, karena merupakan dikala ‘sekarat’ di alam. Ada juga dugaan bahwa perubahan hal yang demikian dilaksanakan karena “alasan praktis bahwa Roma dikala musim panas tak bisa menampung sejumlah besar peziarah yang berbondong-bondong ke sana”, dan mungkin disebabkan pertimbangan kesehatan masyarakat berkenaan dengan Demam Romawi – suatu penyakit yang merenggut sejumlah nyawa selama musim panas yang pengap di daerah hal yang demikian.

Pada Malam Para Kudus, umat Kristen di beberapa belahan dunia mengunjungi pemakaman untuk berdoa dan menempatkan bunga serta lilin pada makam orang yang mereka cintai.[78] Foto atas memperlihatkan umat Kristen di Bangladesh menyalakan lilin di atas makam, sementara foto bawah memperlihatkan umat Kristen Lutheran berdoa dan menyalakan lilin di depan salib. Pada akhir abad ke-12 hari-hari hal yang demikian menjadi hari raya wajib di seluruh Eropa dan mencakup beraneka adat istiadat seperti membunyikan lonceng gereja bagi jiwa-jiwa di api penyucian. Selain itu, “merupakan hal yang lazim bagi para juru siar mengenakan pakaian serba hitam untuk berpawai di jalan-jalan, membunyikan sebuah bel dengan suara memilukan dan menyerukan kepada segala umat Kristen yang berkehendak bagus untuk mengenang jiwa-jiwa yang malang hal yang demikian.” Ada pendapat yang mengatakan bahwa souling, yaitu kebiasaan membuat dan berbagi kue jiwa bagi segala jiwa yang telah dibaptis, merupakan asal mula trick-or-treating. Kebiasaan hal yang demikian berawal dari, setidaknya, abad ke-15dan ditemukan di beraneka penjuru Inggris, Flandria, Jerman, dan Austria. Sekelompok kaum miskin, seringkali anak-anak, pergi dari pintu ke pintu sepanjang Masa Para Kudus untuk mengumpulkan kue-kue jiwa sebagai imbalan atas doa bagi yang telah meninggal dunia, khususnya jiwa-jiwa para teman dan kerabat sang pemberi kue-kue hal yang demikian. Kue jiwa juga dipersembahkan bagi jiwa-jiwa itu untuk dimakan, atau diberikan kepada kaum miskin yang berkeliling hal yang demikian —yang dipandang mewakili mereka. Sebagaimana roti salib panas dalam adat istiadat Prapaskah, kue jiwa pada Masa Para Kudus seringkali ditandai dengan sebuah salib, mengindikasikan bahwa pembuatan kue-kue itu dimaksudkan sebagai derma. Shakespeare menyebut souling dalam komedinya The Two Gentlemen of Verona (1593).

Mengenai kebiasaan mengenakan kostum, Prince Sorie Conteh, seorang pendeta Kristen, menuliskan: “Secara adat istiadat diyakini bahwa jiwa mereka yang telah meninggal dunia mengembara di bumi hingga pada Hari segala Orang Kudus, dan Malam Para Kudus merupakan kesempatan terakhir bagi yang telah meninggal untuk Menjalankan pembalasan kepada musuh-musuh mereka sebelum beralih ke dunia selanjutnya. Agar tak dikenali para jiwa yang mungkin berusaha Menjalankan pembalasan itu, orang-orang mengenakan topeng atau kostum untuk menyamarkan identitas mereka”. Dikatakan bahwa, pada Abad Pertengahan, dalam gereja-gereja yang terlalu miskin untuk bisa mempertunjukkan relikui para martir pada Masa Para Kudus mengizinkan umatnya untuk berpakaian seperti para santo/santa. Beberapa kalangan Kristen mempraktikkan kebiasaan itu pada perayaan Halloween masa kini. Lesley Bannatyne, seorang penulis Amerika, meyakini bahwa kebiasaan itu mungkin merupakan suatu Kristenisasi dari suatu kebiasaan pagan sebelumnya. Telah dikemukakan bahwa jack-o’-lantern, suatu simbol populer Halloween, pada mulanya merepresentasikan para jiwa orang yang telah meninggal. dikala Halloween, di Eropa abad pertengahan, “api-api dinyalakan untuk memandu jiwa-jiwa ini dalam perjalanan mereka dan memalingkan mereka agar tak menghantui kaum Kristen yang lurus hati.” Rumah tangga di Austria, Inggris, dan Irlandia seringkali wajib “menyalakan lilin di tiap ruangan untuk memandu jiwa-jiwa hal yang demikian mengunjungi kembali kediaman duniawi mereka”. Lilin-lilin hal yang demikian diketahui sebagai “cahaya jiwa”.

Banyak umat Kristen di daratan Eropa, terlebih di Perancis, mempercayai bahwa “sekali setahun, dikala Hallowe’en, arwah mereka yang dimakamkan di halaman gereja bangkit untuk melangsungkan suatu karnaval yang liar dan mengerikan” yang diketahui sebagai Danse Macabre (Tarian Kematian), yang mana sering diterangkan dalam dekorasi gereja. Christopher Allmand dan Rosamond McKitterick menuliskan dalam The New Cambridge Medieval History bahwa “umat Kristen tergerak oleh penglihatan Kanak-kanak Yesus yang bermain di pangkuan ibu-Nya; hati mereka tersentuh oleh Pietà; dan para santo pelindung meyakinkan umat akan kehadiran mereka. Tetapi, sementara itu, danse macabre mendesak umat agar tak melupakan akhir dari segala hal duniawi.”[98] Sebuah artikel yang diterbitkan oleh Christianity Today mengklaim bahwa danse macabre diadakan di pertunjukan pedesaan dan masque (suatu acara hiburan mengenai pengadilan), di mana orang-orang “berdandan seperti mayat-mayat dari beraneka lapisan masyarakat”, dan mengajukan pendapat bahwa hal ini merupakan asal mula pesta kostum Halloween.

Di beraneka belahan Britania Raya, kebiasaan-kebiasaan ini mendapat serangan selama Reformasi Inggris karena beberapa kalangan Protestan mencerca purgatorium sebagai suatu doktrin “papisme” yang tak cocok dengan gagasan mereka mengenai predestinasi. Sehingga, bagi beberapa kalangan Protestan Nonkonformis, teologi Malam Para Kudus didefinisikan kembali; dengan mengesampingkan doktrin purgatorium, “jiwa-jiwa yang telah berpulang tak bisa berkelana ke Purgatorium dalam perjalanan mereka ke Surga, sebagaimana yang umat Katolik sering percayai dan tegaskan. Sebaliknya, yang disebut hantu dianggap sebagai roh-roh jahat dalam kenyataannya. Karenanya mereka menebar ancaman.” Kalangan Protestan lainnya mempertahankan keyakinan mengenai keadaan antara, yang diketahui sebagai Hades (Pangkuan Abraham), dan tetap merayakan beraneka kebiasaan aslinya, terlebih souling, prosesi lilin, serta membunyikan lonceng gereja untuk mengenang mereka yang telah meninggal. Berkenaan dengan roh jahat, dikala Halloween, “lumbung dan rumah diberkati untuk melindungi segala orang dan ternak dari pengaruh penyihir, yang diyakini mengiringi roh-roh ganas dikala mereka berkelana di bumi.” Pada abad ke-19, di beberapa bagian pedesaan Inggris, para keluarga berkumpul di bukit-bukit pada malam All Hallows’ Eve. Salah satu orang mengangkat seikat jerami yang dibakar dengan sebuah garpu panjang, sementara yang lain berlutut di sekelilingnya dalam lingkaran sambil berdoa bagi jiwa-jiwa kerabat dan teman mereka hingga api hal yang demikian padam. Kebiasaan ini diketahui dengan nama teen’lay, yang berasal bagus dari bahasa Inggris Kuno tendan (mengobarkan) ataupun suatu kata yang berhubungan dengan bahasa Irlandia Kuno tenlach (perapian). Meningkatnya popularitas Malam Guy Fawkes (5 November), sejak tahun 1605 dan seterusnya, membuat banyak adat istiadat Halloween goyah karena disesuaikan dengan hari libur hal yang demikian dan popularitas Halloween memudar di Britania Raya, dengan Skotlandia sebagai pengecualian yang patut dicatat. Di sana dan di Irlandia, mereka telah merayakan Samhain dan Halloween setidaknya sejak Abad Pertengahan Awal; dan kirk Skotlandia (Gereja Skotlandia) Menjalankan pendekatan yang lebih pragmatis kepada Halloween, dengan memandangnya penting untuk siklus kehidupan dan ritual peralihan di masyarakat dan karenanya memastikan kelestarian perayaan itu di negara hal yang demikian.

Di Perancis, beberapa keluarga Kristen pada malam All Hallows’ Eve berdoa di samping makam orang-orang yang mereka cintai, dan meletakkan pinggan-pinggan penuh susu bagi mereka.[94] dikala Halloween di Italia, beberapa keluarga meninggalkan suatu hidangan makanan besar untuk hantu kerabat mereka yang meninggal dunia, sebelum keluarga hal yang demikian berangkat menuju ibadah gereja.Di Spanyol, dikala malam hal yang demikian, dihasilkan kue pastri istimewa yang diketahui sebagai “tulang belulang sang suci” (bahasa Spanyol: Huesos de Santo) dan menaruhnya pada makam-makam di halaman gereja, suatu praktik yang terus berlanjut hingga dikala ini.

Penyebaran ke Amerika Utara
Acara tahunan Greenwich Village Halloween Parade di Kota New York merupakan parade Halloween terbesar di dunia. Lesley Bannatyne dan Cindy Ott menuliskan bahwa koloni Anglikan di Amerika Serikat Selatan dan koloni Katolik di Maryland “mendapatkan Malam Para Kudus dalam kalender gereja mereka”, meskipun kaum Puritan New England menentang dengan keras hari libur hal yang demikian, serta perayaan tradisional lain dari gereja yang dibentuknya, termasuk Natal. Almanak dari akhir abad ke-18 dan awal abad ke-19 tak memberikan indikasi bahwa Halloween dirayakan secara luas di Amerika Utara. Imigrasi besar-besaran bangsa Skotlandia dan Irlandia pada abad ke-19 menjadikan Halloween sebagai suatu hari libur besar di Amerika Utara. Walau hanya terbatas pada masyarakat imigran selama pertengahan abad ke-19, perayaan hal yang demikian secara bertahap berasimilasi ke dalam masyarakat arus utama, dan pada dekade pertama abad ke-20 dirayakan dari pesisir ke pesisir oleh masyarakat dari segala latar belakang agama, ras, dan sosial. “Di daerah-daerah Cajun, Misa malam hari dirayakan di pemakaman dikala malam Halloween. Lilin-lilin yang telah diberkati ditempatkan di makam-makam, dan para keluarga terkadang menghabiskan waktu sepanjang malam di sisi makam.”