Sejarah Kota Bandung

Sejarah Kota Bandung – Kota Bandung merupakan kota metropolitan terbesar di Provinsi Jawa Barat, sekaligus menjadi ibu kota provinsi hal yang demikian. Kota ini Berlokasi 140 km sebelah tenggara Jakarta, dan merupakan kota terbesar di wilayah Pulau Jawa bagian selatan. Walaupun wilayah Bandung Raya (Wilayah Metropolitan Bandung) merupakan metropolitan terbesar kedua di Indonesia setelah Jabodetabek.Kota kembang merupakan sebutan lain untuk kota ini, karena pada zaman dulu kota ini dinilai amat cantik dengan banyaknya pohon-pohon dan bunga-bunga yang tumbuh di sana. Selain itu Bandung dahulunya disebut juga dengan Parijs van Java karena keindahannya. 

Sejarah Kota Bandung
Kata Bandung berasal dari kata bendung atau bendungan karena terbendungnya sungai Citarum oleh lava Gunung Tangkuban Parahu yang lalu membentuk telaga. Legenda yang diceritakan oleh orang-orang tua di Bandung mengatakan bahwa nama Bandung diambil dari sebuah kendaraan air yang terdiri dari dua perahu yang diikat berdampingan yang disebut perahu bandung yang digunakan oleh Bupati Bandung, R.A. Wiranatakusumah II, untuk melayari Ci Tarum dalam mencari tempat kedudukan kabupaten yang baru untuk menggantikan ibukota yang lama di Dayeuhkolot.

Berdasarkan filosofi Sunda, kata Bandung juga berasal dari kalimat Nga-Bandung-an Banda Indung, yang merupakan kalimat sakral dan luhur karena mengandung nilai ajaran Sunda. Nga-Bandung-an artinya menyaksikan atau bersaksi. Banda yakni segala sesuatu yang berada di alam hidup yaitu di bumi dan atmosfer, bagus makhluk hidup ataupun benda mati. Sinonim dari banda yakni harta. Indung berarti Ibu atau Bumi, disebut juga sebagai Ibu Pertiwi tempat Banda berada.

Sejarah Kota Bandung
Sejarah Kota Bandung
Dari Bumi-lah segala dilahirkan ke alam hidup sebagai Banda. Segala sesuatu yang berada di alam hidup yakni Banda Indung, yaitu Bumi, air, tanah, api, tumbuhan, hewan, manusia dan segala isi perut bumi. Langit yang berada di luar atmosfer yakni tempat yang menyaksikan, Nu Nga-Bandung-an. Yang disebut sebagai Wasa atau Sang Hyang Wisesa, yang berkuasa di langit tanpa batas dan seluruh alam semesta termasuk Bumi. Jadi kata Bandung mempunyai nilai filosofis sebagai alam tempat segala makhluk hidup ataupun benda mati yang lahir dan tinggal di Ibu Pertiwi yang keberadaanya disaksikan oleh yang Maha Kuasa.

Kota Bandung secara geografis memang terlihat dikelilingi oleh pegunungan, dan ini menunjukkan bahwa pada masa lalu kota Bandung memang merupakan sebuah telaga atau danau. Legenda Sangkuriang merupakan legenda yang menceritakan bagaimana terbentuknya danau Bandung, dan bagaimana terbentuknya Gunung Tangkuban Perahu, lalu bagaimana pula keringnya danau Bandung sehingga meninggalkan cekungan seperti sekarang ini. Air dari danau Bandung berdasarkan legenda hal yang demikian kering karena mengalir melalui sebuah gua yang bernama Sanghyang Tikoro.

Daerah terakhir sisa-sisa danau Bandung yang menjadi kering yakni Situ Aksan, yang pada tahun 1970-an masih merupakan danau tempat berpariwisata, tetapi ketika ini sudah menjadi daerah perumahan untuk permukiman.

Kota Bandung mulai dijadikan sebagai wilayah permukiman sejak pemerintahan kolonial Hindia Belanda, melalui Gubernur Jenderalnya waktu itu Herman Willem Daendels, mengeluarkan surat keputusan tanggal 25 September 1810 tentang pembangunan sarana dan prasarana untuk wilayah ini. Dikemudian hari peristiwa ini diabadikan sebagai hari jadi kota Bandung.

Kota Bandung secara resmi mendapat status gemeente (kota) dari Gubernur Jenderal J.B. van Heutsz pada tanggal 1 April 1906[13] dengan luas wilayah waktu itu sekitar 900 ha, dan bertambah menjadi 8.000 ha pada tahun 1949, hingga terakhir bertambah menjadi luas wilayah ketika ini.

Pada masa perang kemerdekaan, pada 24 Maret 1946, beberapa kota ini dibakar oleh para pejuang kemerdekaan sebagai bagian dalam strategi perang waktu itu. Peristiwa ini diketahui dengan sebutan Bandung Lautan Api dan diabadikan dalam lagu Halo-Halo Bandung. Selain itu kota ini kemudian ditinggalkan oleh beberapa penduduknya yang mengungsi ke daerah lain.Kota Bandung tak berdiri bersamaan dengan penyusunan Kabupaten Bandung. Kota itu dibangun dengan tenggang waktu amat jauh setelah Kabupaten Bandung berdiri. Kabupaten Bandung disusun pada sekitar pertengahan abad ke-17 Masehi, dengan Bupati pertama tumenggung Wiraangunangun. Beliau memerintah Kabupaten bandung hingga tahun 1681. 


Semula Kabupaten Bandung beribukota di Krapyak (sekarang Dayeuhkolot) kira-kira 11 kilometer ke arah Selatan dari pusat kota Bandung sekarang. Ketika kabupaten Bandung dipimpin oleh bupati ke-6, yakni R.A Wiranatakusumah II (1794-1829) yang dijuluki “Dalem Kaum I”, kekuasaan di Nusantara beralih dari Kompeni ke Pemerintahan Hindia Belanda, dengan gubernur jenderal pertama Herman Willem Daendels (1808-1811). 


Untuk kelancaran menjalankan tugasnya di Pulau Jawa, Daendels membangun Jalan Raya Pos (Groote Postweg) dari Anyer di ujung barat Jawa Barat ke Panarukan di ujung timur Jawa timur (kira-kira 1000 km). Pembangunan jalan raya itu dikerjakan oleh rakyat pribumi di bawah pimpinan bupati daerah masing-masing. 


Di daerah Bandung khususnya dan daerah Priangan umumnya, Jalan Raya pos mulai dibangun pertengahan tahun 1808, dengan memperbaiki dan memperlebar jalan yang telah ada. Di daerah Bandung sekarang, jalan raya itu yakni Jalan Jenderal Sudirman – Jalan Asia Afrika – Jalan A. Yani, berlanjut ke Sumedang dan seterusnya. Untuk kelancaran pembangunan jalan raya, dan agar pejabat pemerintah kolonial mudah mendatangi kantor bupati, Daendels melalui surat tanggal 25 Mei 1810 meminta Bupati Bandung dan Bupati Parakanmuncang untuk memindahkan ibukota kabupaten, masing-masing ke daerah Cikapundung dan Andawadak (Tanjungsari), mendekati Jalan Raya Pos. 


Rupanya Daendels tak mengetahui, bahwa jauh sebelum surat itu keluar, bupati Bandung sudah merencanakan untuk memindahkan ibukota Kabupaten Bandung, bahkan telah menemukan tempat yang cukup bagus dan strategis bagi pusat pemerintahan. Tempat yang dipilih yakni lahan kosong berupa hutan, Berlokasi di tepi barat Sungai Cikapundung, tepi selatan Jalan Raya Pos yang sedang dibangun (pusat kota Bandung sekarang). Alasan pemindahan ibukota itu antara lain, Krapyak tak strategis sebagai ibukota pemerintahan, karena Berlokasi di sisi selatan daerah Bandung dan sering dilanda banjir bila musim hujan. 


Sekitar akhir tahun 1808/awal tahun 1809, bupati beserta sejumlah rakyatnya pindah dari Krapyak mendekali lahan bakal ibukota baru. Mula-mula bupati tinggal di Cikalintu (daerah Cipaganti), kemudian pindah ke Balubur Hilir, selanjutnya pindah lagi ke Kampur Bogor (Kebon Kawung, pada lahan Gedung Pakuan sekarang). 


tak diketahui secara pasti, berapa lama Kota Bandung dibangun. Akan tetapi, kota itu dibangun bukan atas prakarsa Daendels, melainkan atas prakarsa Bupati Bandung, bahkan pembangunan kota itu langsung dipimpin oleh bupati. Dengan kata lain, Bupati R. A. Wiranatakusumah II yakni pendiri (the founding father) kota Bandung. Kota Bandung diresmikan sebagai ibukota baru Kabupaten Bandung dengan surat keputusan tanggal 25 September 1810. 


Sejarah Kota Bandung
Bandung yakni ibukota provinsi Jawa Barat dan merupakan kota terbesar ke-empat di Indonesia. Berlokasi pada ketinggian sekitar 750 m di atas permukaan laut, kota ini mempunyai udara yang relatif sejuk. Karena cuacanya yang sejuk, pemerintah kolonial Belanda sebelum Perang Dunia ke II pernah berniat untuk menjadikan Bandung sebagai ibukota Hindia Belanda, beberapa departemen penting pada waktu itu kemudian memindahkan kantor pusatnya ke Bandung.
Kota ini kemudian terkenal ke seluruh dunia ketika sebuah pertemuan internasional Konferensi Asia-Afrika diadakan di kota ini pada tahun 1955, konferensi itu dianggap sebagai peristiwa bersejarah sehingga Bandung-pun menjadi kota bersejarah.
Kota Bandung mempunyai banyak bangunan peninggalan kolonial Belanda yang bergaya Art Deco, salah satu Model terbaik dari bangunan ini yakni Hotel Savoy Homann yang masih beroperasi hingga sekarang, sementara wilayah perumahan yang cantik peninggalan Belanda masih bisa ditemui di wilayah pinggiran kota di utara Bandung.
Selain ‘kota kembang’, Bandung juga pernah dijuluki sebagai ‘Paris van Java’ karena bermacam taman dan kebun yang terdapat di kota ini, namun kemegahan dari julukan itu lebih banyak berlaku untuk Bandung tempo doeloe.

Ketika kita bertanya bagaimana Bandung dulu, tentu jawaban yang diberikan senantiasa dimulai dengan konon atau katanya. Jawaban seperti ini terang bukan jawaban yang tepat bagi generasi muda ketika ini yang sudah berpikir kritis. Akibatnya, orang menjadi tak tahu bagaimana sejarah kota ini dimulai dan berjalan dari masa ke masa dan kenyataan ini tak hanya terjadi pada orang yang baru menginjakkan kaki di Kota Bandung, melainkan juga pada mereka yang lahir dan besar di kota ini. 
Kenangan indah dan pahit masa lalu Kota Bandung hanya menjadi konsumsi orang tua kita yang mengalaminya, sedang anak-anak sekarang hanya kebingungan dibuatnya dan tak sedikit di antara mereka yang menganggap cerita orang tua hanyalah sebagai dongeng belaka karena tak ada bukti yang bisa memperkuatnya. Padahal, perjalanan kota ini sudah amat panjang dan semuanya diisi dengan keindahan serta kegetiran para pelaku sejarah di dalamnya. Akibatnya, generasi muda ketika ini menjadi kurang peduli dan bangga akan kotanya, mereka menganggap kotanya tak mempunyai sesuatu yang perlu dibanggakan, karena tak ada sesuatu yang bisa membuktikan kota ini mempunyai perjalanan panjang yang penuh dengan keindahan dan kepahitan. 
Kenyataan hal yang demikian terjadi sebagai akibat dari minimnya informasi yang diterima oleh generasi muda tentang Kota Bandung.

Buku-buku yang memberikan informasi tentang bagaimana perjalanan kota ini sulit diperoleh, karena kalau pun ada sudah menjadi barang langka yang tak mudah diperoleh di pasaran. Selain itu, tak adanya museum yang khusus menampilkan materi perjalanan Kota Bandung juga menjadi penyebab minimnya informasi yang diperoleh generasi muda tentang kota ini.

Perjalanan sejarah Bandung
Catatan sejarah Kota Bandung dimulai sekira pertengahan abad ke-17, tepatnya tahun 1641, yaitu ketika seorang mata-mata Kompeni, Juliaen de Silva menulis laporannya. Kemudian, baru pada tahun 1712 ekspedisi untuk mencari sumber bahan baku dan lahan untuk perkebunan kopi membawa Abraham Van Riebeek menginjakkan kakinya di dataran Bandung dan baru pada tahun 1741 Belanda menempatkan seorang tentaranya, yaitu Kopral Arie Top. Tetapi, perkembangan pesat dataran Bandung menjadi sebuah kota dimulai ketika ibu kota Kabupaten Bandung dipindahkan dari Krapyak ke pusat Kota Bandung sekarang. 

Pada tahun 1786, jalan setapak yang bisa dilewati kuda mulai menghubungkan Batavia dengan Bandung melalui Bogor dan Cianjur dan pada ketika Gubernur Jenderal Daendels berkuasa pada tahun 1810, jalan setapak hal yang demikian diubah menjadi jalan raya yang merupakan bagian dari jalan raya pos Anyer-Panarukan. Setelah jalan raya selesai, Gubernur Jenderal melalui surat tanggal 25 Mei 1810 memerintahkan kepada Bupati Bandung untuk pindah dari ibu kota kabupaten lama, di Krapyak, ke tepi jalan raya pos. 

Setelah menemukan tempat yang tepat untuk pusat pemerintahan kabupaten yang layak dengan harapan, maka pada tanggal 25 September 1810, Bupati Bandung ketika itu, Wiranatakusumah II, secara resmi memindahkan ibu kota kabupaten dari Krapyak ke tempat baru di tepian Jalan Raya Pos, yaitu sekitar alun-alun Bandung sekarang. Kepindahan ibu kota kabupaten menjadi tonggak bersejarah bagi perkembangan Kota Bandung selanjutnya, karena sejak ketika itu perkembangan Bandung yang dulunya hanya berupa “kampung” menuju sebuah kota yang maju dimulai. 
Posisi Kota Bandung yang strategis serta perkembangan kota yang pesat, pada tahun 1856 ibu kota karesidenan Priangan dipindahkan dari Cianjur ke Kota Bandung. Karena pertumbuhan penduduk Kota Bandung yang terus meningkat serta pertumbuhan kota yang pesat, pada tahun 1906, Kota Bandung resmi menjadi kota dengan pemerintahan gementee (kotamadya) yang dipimpin oleh seorang wali kota.

Setelah menjadi gementee, kemajuan Kota Bandung dalam bermacam hal semakin tampak. Demi keindahan dan kesejukan kota di bermacam sudut kota dibangun taman-taman yang indah dan lapangan terbuka hijau tempat bermain anak-anak selain pembangunan infrastruktur pendukung ekonomi masyarakat.  Karena kelebihan potensi alamiah yang dimiliki Bandung, pada masa pemerintahan Gubernur Jenderal J.P. Graaf (1916-1921) timbul gagasan untuk memindahkan ibu kota Hindia Belanda dari Batavia ke Bandung. Gagasan hal yang demikian timbul sebagai usulan dari H.F. Rillema, seorang spesialis kesehatan Belanda, yang Mengerjakan penelitian tentang kesehatan kota-kota pesisir. 

Ide pemindahan ibu kota negara hal yang demikian mendapat dukungan dari bermacam pihak dan mulailah pembangunan bermacam infrastruktur pemerintahan di kota ini, salah satunya yakni Gedung Sate. Pemindahan bermacam kantor pusat dari Batavia ke Bandung mulai dikerjakan, di antaranya pemindahan Departemen Peperangan (Depatement van Oorlog/DVO) yang secara resmi dilaksanakan pada tahun 1920, menyusul pemindahan pabrik senjata (Artillerie Contructie Winkel/ACW) dari Surabaya yang dirintis sejak tahun 1898 dan resmi pindah pada tahun 1920. 

Selain dibangun pusat pemerintahan, bermacam sarana pendidikan dibangun untuk melengkapi sarana yang telah ada. Pada 16 Mei 1929 diresmikan Museum Geologi, kemudian pada tahun 1931 juga diresmikan Museum PTT (Museum Pos Indonesia, sekarang) sebagai pelengkap kantor pusat jawatan PTT (Post, Telegraaf & Telefoon). Selain itu didirikan pula perpustakaan-perpustakaan dengan koleksi yang representatif bagi perkembangan pendidikan di Bandung masa itu. Setelah beberapa besar pusat pemerintahan migrasi dari Batavia ke Bandung dan hanya tinggal Departemen Dalam Negeri, Departemen Pendidikan dan pendidikan, Volksraad serta Gubernur Jenderal, pada tahun 1930-an Belanda dilanda krisis ekonomi cukup berat dan berkepanjangan yang berakibat pada penundaan Bandung sebagai ibu kota negara. Lambat laun, rencana hal yang demikian akhirnya pupus seiring dengan konsentrasi Belanda kepada serangan Jepang dan sirna untuk selamanya setelah Jepang masuk dan menguasai Indonesia, termasuk Bandung pada tahun 1942. Akhirnya Bandung pun hanya menjadi ibu kota karesidenan Priangan dan Jawa Barat setelah masa kemerdekaan. 

Selama tiga tahun setelah Jepang menduduki Indonesia, keadaan Kota Bandung tak banyak mengalami perubahan dalam tata kotanya, pembangunan di Bandung seolah tak terjadi. Pembangunan di Bandung baru menggeliat kembali setelah Indonesia merdeka. bermacam kegiatan yang sifatnya nasional bahkan internasional dikerjakan di kota ini, di antaranya kegiatan Konferensi Asia-Afrika pada tahun 1955 yang melahirkan Dasa Sila Bandung.

Museum Perjalanan Bandung
Perjalanan panjang Kota Bandung dengan bermacam peristiwa yang mengiringi serta keindahan alamnya telah menjadi kenangan yang terus melekat pada orang-orang yang merasakannya. Oma-opa serta kakek-nenek kita yang pernah mengalami zaman keemasan Bandung senantiasa mengenangnya dalam bermacam kisah nostalgia yang diceritakan kepada cucu-cucunya. Tetapi sayang, apa yang diceritakan oleh opa-oma atau nenek-kakek kita tak bisa dibuktikan oleh cucu-cucunya yang lahir belakangan yang tak merasakan keindahan dan ketenaran kota ini. 

bermacam bukti peninggalan sejarah telah hilang entah ke mana, banyak taman yang telah tergusur demi pembangunan gedung perkantoran atau perdagangan bahkan perumahan, demikian pula halnya gedung-gedung tua telah bersalin wujud menjadi gedung-gedung berarsitektur modern guna memenuhi kebutuhan bermacam kegiatan warga kota yang dari hari ke hari semakin berjibun jumlahnya. 

Minimnya bukti sejarah yang tersisa serta kurangnya pengenalan sejarah kota kepada generasi muda mengakibatkan banyak orang muda di Bandung tak lagi mengenal bagaimana perjalanan hidup kotanya dari masa ke masa. Kenyataan ini berdasarkan para spesialis akan memudarkan semangat nasionalisme dan rasa kepedulian kepada lingkungan sekitar di mana dia tinggal dan menetap, padahal rasa cinta dan kepedulian kepada daerahnya merupakan modal bagi pembangunan daerah secara khusus di era otonomi daerah ketika ini. 

Salah satu upaya untuk menumbuhkan kembali rasa kepedulian generasi muda kepada tempat tinggalnya, yakni melalui pendirian museum sejarah Bandung. Timbul pertanyaan mengapa mesti museum? Karena museum sebagai lembaga yang menyimpan, merawat, dan memamerkan benda-benda yang mempunyai nilai sejarah bagi umat manusia berkenaan dengan kehidupan dan lingkungannya akan mampu memberikan pengenalan bermacam peristiwa sejarah yang pernah terjadi di kota ini. 

segala aspek sejarah perkembangan Kota Bandung, dari Bandung mulai diketahui oleh dunia luar, kemudian pembabakan oleh para perintis, selanjutnya bermacam kegiatan pembangunan kota yang terjadi di awal-awal pembentukannya yang melibatkan bermacam bagian masyarakat, bagus para sinyo Belanda ataupun para pribumi, yang telah mengangkat Bandung ke pentas nasional bahkan internasional hingga kepada perkembangan kota ke arah metropolitan yang penuh dengan keramaian kegiatan sebuah kota yang tak pernah tidur walau sekejap. 

Melalui pendirian museum sejarah Bandung diharapkan kenangan indah masa lalu di ketika zaman jayanya Kota Bandung yang senantiasa dikenang oleh opa-oma serta kakek-nenek bahkan buyut kita tak hanya menjadi milik mereka, tetapi bisa juga dinikmati dan dipelajari oleh generasi muda. Pada akhirnya setelah mengenal Bandung secara lebih mendalam diharapkan mereka bisa belajar dari perjuangan serta upaya para pendiri dan pengelola kota di awal pertumbuhan Bandung yang kemudian diharapkan tumbuh rasa cinta dan bangga akan kota di mana mereka lahir dan tumbuh dewasa. Setelah rasa cinta dan bangga timbul diharapkan pada diri mereka tumbuh rasa peduli kepada perkembangan pembangunan kota ini dan berupaya untuk turut aktif dalam menggerakkan roda pembangunan melalui bermacam upaya positif bagi pembangunan kota.

Sejarah Penting Kota Bandung
  • 1488 – Bandung didirikan sebagai bagian dari Kerajaan Pajajaran. 
  • 1799 – VOC mengalami kebangkrutan sehingga wilayah kekuasaannya di Nusantara diambilalih oleh pemerintah Belanda. ketika itu Bandung dipimpin oleh Bupati R.A. Wiranatakusumah II. 
  • 1808 – Belanda mengangkat Herman Willem Daendels sebagai Gubernur Jenderal di Nusantara setelah ditinggalkan VOC. 
  • 1809 – Bupati memerintahkan pemindahan ibu kota dari Karapyak ke daerah pinggiran Sungai Cikapundung (alun-alun sekarang) yang waktu itu masih hutan melainkan sudah ada permukiman di sebelah utara. 
  • 1810 – Daendels menancapkan tongkat di pinggir sungai Cikapundung yang berseberangan dengan alun-alun sekarang. “Zorg, dat als ik terug kom hier een stad is gebouwd!” (Usahakan, bila aku datang kembali ke sini, sebuah kota telah dibangun!”). Sekarang tempat itu menjadi spot pusat atau KM 0 kota Bandung. 
  • 25 Mei 1810 – Daendels meminta bupati Bandung dan Parakanmuncang memindahkan ibukota ke wilayah hal yang demikian. 
  • 25 September 1810 – Daendels mengeluarkan surat keputusan pindahnya ibu kota Bandung dan sekaligus pengangkatan Raden Suria sebagai Patih Parakanmuncang. Sejak peristiwa hal yang demikian 25 September dijadikan sebagai hari jadi kota Bandung dan R.A. Wiranatakusumah sebagai the founding father. Sekarang nama hal yang demikian diabadikan menggantikan jalan Cipaganti, di mana wilayah ini menjadi rumah tinggal bupati sewaktu ibu kota berpindah ke alun-alun sekarang. 
  • 24 Maret 1946 – Pembumi hangusan Bandung oleh para pejuang kemerdekaan yang diketahui dengan sebutan ‘Bandung Lautan Api’ dan diabadikan dalam lagu “Halo-Halo Bandung”. 
  • 1955 – Konferensi Asia-Afrika diadakan di sini. 
  • 2005 – KTT Asia-Afrika 2005

Sejarah Lainnya:

dialog tentang sejarah bandung lautan api, artikel singkat bandung lautan api, naskah drama tentang kerajaan pajajaran, sejarah pdam tirta pakuan, sejarah didirikannya tugu pahlawan bandung, naskah drama asal usul kota bandung, yayasan zakaria dibandung, https://sejarahidn com/search/sejarah kota ciawi bogor, Asal usul kota bandung dalam bahasa jawa, asal usul kota bandung bahasa jawa