Sejarah Peradaban Islam di Dunia

Sejarah Peradaban Islam di Dunia – Rasulullah saw bersabda: “Apabila umatku sudah mengagungkan dunia maka akan dicabutlah kehebatan Islam; dan apabila mereka meninggalkan kegiatan amar ma’ruf nahi munkar, maka akan diharamkan keberkahan wahyu; dan apabila umatku saling mencaci, maka jatuhlah mereka dalam pandangan Allah.”

“Hampir tiba suatu masa dimana beragam bangsa/kelompok mengeroyok kamu, bagaikan orang-orang yang kelaparan mengerumuni hidangan mereka.” Seorang sahabat bertanya: “Apakah karena jumlah kami yang sedikit pada hari itu?” Nabi SAW menjawab: “(tak) Bahkan jumlah kamu pada hari itu betul-betul banyak (mayoritas), tetapi (kualitas) kamu merupakan buih, laksana buih di waktu banjir, dan Allah mencabut rasa gentar kepada kamu dari hati musuh-musuh kamu, dan Allah akan menanamkan penyakit “al wahnu”. Seorang bertanya, “Apakah al wahnu itu Ya Rasulallah?” Rasulullah menjawab: “Cinta dunia dan takut mati.” (HR Abu Dawud).

Sejarah peradaban islam pdf 

Makalah sejarah peradaban islam 

Sejarah peradaban islam pada masa khulafaur rasyidin 

Pengertian sejarah peradaban islam 

Sejarah peradaban islam di dunia 

Sejarah peradaban islam pada masa nabi muhammad 

Tujuan mempelajari sejarah peradaban islam 

Buku sejarah peradaban islam

Al-Quran dan Kehancuran Peradaban

Beberapa ayat al-Quran memberikan penjelasan tentang kehancuran suatu bangsa. Penjelasan al-Quran ini sangatlah penting untuk menjadi pelajaran, khususnya bagi kaum Muslimin, agar mereka tak mengulang kembali tindakan-tindakan yang dikerjakan oleh umat terdahulu, yang bisa menghancurkan peradaban mereka.

Allah SWT berfirman:

“Andaikan penduduk suatu wilayah mau beriman dan bertaqwa, maka pasti akan Kami buka pintu-pintu barokah dari langit dan bumi. Tetapi mereka mendustakan (ajaran-ajaran Allah), maka Kami azab mereka, karena perbuatan mereka sendiri” (QS Al A’raf:96)

Maka apabila mereka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka, Kami pun membukakan seluruh pintu-pintu kesenangan untuk mereka; sehingga apabila mereka bergembira dengan apa yang telah diberikan kepada mereka, Kami siksa mereka dengan tiba-tiba (sekonyong-konyong), maka ketika itu mereka terdiam dan berputus asa. (QS al-An’am:44).

Dan kalau Kami hendak membinasakan suatu negeri, maka Kami perintahkan kepada orang-orang yang hidup mewah di negeri itu (supaya mentaati Allah), tetapi mereka Mengerjakan kedurhakaan dalam negeri itu, maka sudah sepatutnya berlaku keputusan Kami kepada mereka, kemudian Kami hancurkan negeri itu sehancur-hancurnya. (QS al-Isra’:16)

Ayat-ayat dalam al-Quran yang menjelaskan tentang kehancuran suatu negeri itu bercerita, bahwa kehancuran suatu kaum berhubungan dengan hal-hal: (1) sikap kaum yang melupakan peringatan Allah SWT, sehingga mereka lupa diri dan hidupnya dihabiskan untuk sekedar mencari kesenangan demi kesenangan (hedonisme). Hal ini juga disebutkan dalam al-Quran surat at-Taubah ayat 24. (2) tindakan elite-elite atau pembesar masyarakat yang melupakan Allah SWT dan membuat kerusakan di muka bumi. Apabila di dalam suatu peradaban sudah tampak dominan adanya para pembesar, tokoh masyarakat, orang-orang kaya yang bergaya hidup mewah, atau sesiapa saja yang bermewah-mewah dalam hidupnya, maka itu pertanda kehancuran peradaban itu sudah dekat.

Akan tetapi, dari kedua hal hal yang demikian, inti dari kehancuran peradaban atau bangsa, merupakan kehancuran iman dan kehancuran akhlak. Apabila iman kepada Allah SWT sudah rusak, maka secara otomatis pula akan terjadi pembangkangan kepada aturan-aturan Allah SWT. Rasulullah saw berkata:

“Apabila perzinahan dan riba sudah melanda suatu negeri, maka penduduk negeri itu telah menghalalkan turunnya azab Allah atas mereka sendiri.” (HR Thabrani dan al-Hakim).

Dalam sejarah manusia, beragam kehancuran peradaban di muka bumi sudah begitu banyak terjadi. Dan Allah SWT menganjurkan kaum Muslimin agar mengambil pelajaran (hikmah) dari peristiwa-peristiwa sejarah hal yang demikian. “Maka berjalanlah di muka bumi dan perhatikanlah bagaimana hasilnya orang-orang yang mendustakan (rasul-rasul Allah SWT) (QS an-Nahl:36)

Sebagai misal, Kaum ‘Ad, telah dihancurkan oleh Allah SWT karena berlaku takabbur dan merasa paling berkuasa dan paling kuat. Mereka merasa tak ada lagi yang bisa mengalahkan mereka, sehingga mereka berkata: “Siapa yang lebih hebat kekuatannya dari kami?” (QS Fusshhilat:15). Begitu juga kehancuran yang menimpa Fir’aun, Namrudz, dan sebagainya. Di masa Rasuullah saw, kaum Muslim yang jumlahnya betul-betul besar dan berlipat-lipat daripada kaum kuffar, hampir saja dikalahkan dalam Perang Hunain (QS at-Taubah: 25).

Sejarah juga mencatat, bagaimana Peradaban Islam di Spanyol yang betul-betul agung dan sudah bertahan selama 800 tahun (711-1492) bisa dihancurkan dan akhirnya kaum Muslimin dimusnahkan dari bumi Spanyol. S.M. Imamuddin menyebutkan beberapa faktor penyebab kehancuran peradaban Islam di Spanyol. Yang terpenting merupakan adanya perpecahan dan kecemburuan antar suku. Bahkan ada beberapa penguasa Muslim di Spanyol, seperti Ma’mun dari Toledo dan Dinasti Nasrid, memperoleh kekuasaan dengan bantuan kekuatan Kristen untuk menghancurkan kekuatan Muslim lainnya.1 Sejarah jatuhnya Palestina ke tangan Zionis Yahudi juga boleh dijadikan pelajaran bagi kaum Muslimin. Bagaimana suatu kaum Yahudi yang minoritas dari segi jumlah tetapi bisa mengalahkan kaum Muslim yang betul-betul besar.

Kehancuran dan kejatuhan beragam kaum, negeri, bangsa, dan peradaban, inilah yang sepatutnya direnungkan secara mendalam dan sungguh-sungguh oleh kaum Muslimin, khususnya para ulama dan cendekiawan Muslim di wilayah Peradaban Melayu. Apakah gejala-gejala kehancuran suatu negeri atau peradaban seperti yang disebutkan dalam al-Quran dan pernah terjadi dalam sejarah manusia sudah ditemukan dalam wilayah peradaban Melayu? Kalau gejala-gejala itu sudah ada, bagaimana cara menghindarkannya?

Yang terang, jatuh bangunnya suatu peradaban, pada dasarnya tergantung pada situasidianalisis manusia-manusia dalam peradaban itu sendiri. Kekalahan dan kehancuran suatu peradaban merupakan disebabkan oleh tindakan mereka sendiri, yang menciptakan “situasidianalisis layak kalah” (al-qabiliyyah lil-hazimah). Allah SWT menegaskan:

“Yang demikian itu karena Allah sekali-kali tak akan mengubah nikmat yang telah dianugerahkan-Nya kepada suatu kaum, hingga mereka mengubah apa yang ada pada diri mereka sendiri.” (QS al-Anfal:53).

Kebangkitan Islam: Belajar dari Kasus Perang Salib

Belum lama ini buku Hakadza Zhahara Jīlu Shalahuddin wa Hakadza ‘Ādat al-Quds karya Dr. Majid Irsan al-Kilani diterjemahkan dalam bahasa Indonesia.2 Buku ini menarik, terutamanya dari sudut pandang kebangkitan sebuah peradaban. Penerjemah buku ini, yang merupakan alumni Universitas Islam Madinah, menceritakan, bahwa dosen pembimbing mereka, Dr. Ghazi bin Ghazi al-Muthairi, merupakan yang mengenalkan dan meminta mereka membaca buku ini.
Buku ini menceritakan bagaimana kaum Muslimin mampu bangkit dari keterpurukan selama sekitar 50 tahun. spot balik Perang Salib terjadi dengan kejatuhan Edessa di tangan Muslim pada 539/1144, di bawah komandan Imam al-Din Zanki, ayah Nur al-Din Zanki. Dua tahun Setelah itu, Zanki wafat, tahun 1146. Ia telah meratakan jalan buat anaknya, Nur al-Din, untuk memimpin perjuangan melawan Pasukan Salib. Pada 544/1149, Nur al-Din meraih kemenangan melawan pasukan Salib dan pada 549/1154 ia sukses menyatukan Syria di bawah kekuasaan Muslim. Nur al-Din diterangkan sebagai sosok yang betul-betul religius, pahlawan jihad, dan model penguasa sunni. Setelah meninggalnya Nur al-Din pada 569/1174, Shalahuddin al-Ayyubi, keponakan Nur al-Din, memegang kendali kepemimpinan Muslim dalam melawan pasukan Salib. Ia kemudian diketahui sebagai pahlawan Islam yang berhasil membebaskan Jerusalem pada tahun 1187. 3

Tahun 1095 Perang Salib dimulai. Tahun 1099, Jerusalem jatuh ke tangan pasukan Salib. Meskipun mempunyai negara dan pemimpin (khalifah), umat Islam berada dalam situasidianalisis yang betul-betul terpuruk. Sekitar 88 tahun kemudian tampillah pahlawan Islam terkenal, Shalahuddin al-Ayyubi, yang berhasil membebaskan kembali al-Aqsha dari kekuasaan pasukan Salib, pada tahun 1187. Buku ini memaparkan data-data, bahwa Shalahudin bukanlah pemain tunggal yang “turun dari langit”. Tetapi, dia merupakan produk sebuah generasi baru yang telah dipersiapkan oleh para ulama yang hebat. Dua ulama besar yang disebut berjasa besar dalam menyiapkan generasi baru itu merupakan Imam al-Ghazali dan Abdul Qadir al-Jilani.

berdasarkan Dr. Majid Irsan al-Kilani, dalam Mengerjakan upaya perubahan umat yang mendasar, al-Ghazali lebih menfokuskan pada upaya mengatasi masalah situasidianalisis umat yang layak mendapatkan kekalahan. Di sinilah, al-Ghazali mencoba mencari faktor dasar kelemahan umat dan berusaha mengatasinya, ketimbang menuding-nuding musuh. berdasarkan al-Ghazali, masalah yang paling besar merupakan rusaknya pemikiran dan diri kaum Muslim yang berhubungan dengan aqidah dan kemasyarakatan, Sejarah Peradaban Islam di Dunia. Al-Ghazali tak menolak perubahan pada aspek politik dan militer, tetapi yang dia tekankan merupakan perubahan yang lebih mendasar, yaitu perubahan pemikiran, akhlak, dan perubahan diri manusia itu sendiri. Untuk itu, al-Ghazali Mengerjakan perubahan dimulai dari dirinya sendiri dahulu, kemudian baru mengubah orang lain. Kata penulis buku ini:
“Al-Ghazali lebih menfokuskan usahanya untuk membersihkan masyarakat muslim dari beragam penyakit yang menggerogotinya dari dalam dan pentingnya mempersiapkan kaum Muslim agar mampu mengemban risalah Islam kembali sehingga dakwah Islam merambah seluruh pelosok bumi dan pilar-pilar iman dan kedamaian bisa tegak dengan kokoh.” [4]
Melalui kitab-kitab yang ditulisnya setelah merenungkan situasidianalisis umat secara mendalam, al-Ghazali hingga pada kesimpulan bahwa yang patut dibenahi pertama dari umat merupakan masalah keilmuan dan keulamaan. Oleh karena itu, kitabnya yang terkenal dia beri nama Ihya’ Ulumuddin. Secara ringkas bisa dipahami, bahwa di masa Perang Salib, kaum Muslim berhasil menggabungkan konsep jihad al-nafs dan jihad melawan musuh dalam wujud ‘qital’ dengan bagus. Karya-karya al-Ghazali dalam soal jihad menekankan pentingnya mensimultankan beragam Ragam potensi dalam perjuangan umat, bagus potensi jiwa, harta, dan juga keilmuan. merupakan menarik, bagaimana dalam situasi perang seperti itu, Imam Ghazali mampu mengamati masalah umat secara komprehensif; secara mendasar. Dan melalui Ihya Ulumuddin, al-Ghazali juga menekankan pentingnya masalah ilmu dan akhlak. Ia membuka Kitabnya itu dengan “Kitabul Ilmi” dan betul-betul menekankan pentingnya kegiatan ‘amar ma’ruf nahi munkar’. kegiatan “amal ma’ruf dan nahi munkar”, kata al-Ghazali, merupakan kutub terbesar dalam urusan agama. Ia merupakan sesuatu yang penting, dan karena misi itulah, maka Allah mengutus para nabi. kalau kegiatan ‘amar ma’ruf nahi munkar’ hilang, maka syiar kenabian hilang, agama menjadi rusak, kesesatan tersebar, kebodohan akan merajelela, satu negeri akan binasa. Begitu juga umat secara keseluruhan. [5]

kegiatan al-Ghazali yang aktif dalam memberikan kritik-kritik keras kepada beragam pemikiran yang dinilainya menyesatkan umat, juga menunjukkan kepeduliannya yang tinggi kepada masalah ilmu dan ulama. Al-Ghazali seperti berpesan kepada umat, ketika itu, bahwa problema umat Islam dikala itu tak begitu saja bisa diselesaikan dari faktor-faktor permukaan saja, seperti masalah politik atau ekonomi. Tetapi, masalah umat perlu diselesaikan dari masalahnya yang betul-betul mendasar. Tentu, tahap kebangkitan dan pembenahan jiwa ini tak bisa dikerjakan tanpa melalui pemahaman keilmuan yang benar. Ilmu merupakan asas dari pemahaman dan keimanan. Ilmu yang benar akan menuntun kepada keimanan yang benar dan juga amal yang benar. Ilmu yang salah akan menuntun pada pehamaman yang salah. kalau pemahaman sudah salah, bagaimana mungkin amal akan benar?

Rasulullah saw bersabda: “Termasuk diantara perkara yang aku khawatirkan atas umatku merupakan tergelincirnya orang alim (dalam kekeliruan) dan silat lidahnya orang munafik tentang al-Quran.” (HR Thabrani dan Ibn Hibban).

Jadi, dalam perjuangan umat, dibutuhkan pemahaman secara komprehansif kepada problematika yang dihadapi oleh umat Islam. Ketika itu, umat Islam menghadapi beragam masalah: politik, keilmuan, moral, sosial, dan sebagainya. Problema itu perlu dianalisis dan didudukkan secara proporsional dan adil. Yang penting ditempatkan pada posisinya, begitu juga yang kurang penting. Di situlah, al-Ghazali menulis kitab Ihya’ Ulumuddin, dengan makna “Menghidupkan kembali ilmu-ilmu agama”. Ketika itu, dia seperti mengamati, seolah-olah ilmu-ilmu agama sudah mati, sehingga perlu dihidupkan. Dalam Kitabnya, ia betul-betul menekankan pada aspek niat dan pembagian keilmuan serta penempatannya layak dengan proporsinya.

Al-Ghazali dan para ulama ketika itu berusaha keras membenahi cara berpikir ulama dan umat Islam serta menekankan pada pentingnya aspek amal dari ilmu, sehingga jangan menjadi ulama-ulama yang jahat. karena, ilmu yang rusak, dan ulama yang jahat, merupakan sumber kerusakan bagi Islam dan umatnya. Nabi Muhammad saw memberi amanah kepada para ulama untuk menjaga agama ini. Tentu saja, itu patut mereka lakukan dengan cara menjaga keilmuan Islam dengan bagus. Bahkan, Rasulullah saw mengingatkan akan datangnya satu zaman yang penuh dengan fitnah dan banyaknya orang-orang jahil yang memberi fatwa. Sabda Rasulullah saw:

Bahwasanya Allah SWT tak akan mencabut ilmu dengan sekaligus dari manusia. Tetapi Allah menghilangkan ilmu agama dengan mematikan para ulama. Apabila sudah ditiadakan para ulama, orang banyak akan memilih orang-orang bodoh sebagai pemimpinnya. Apabila pemimpin yang bodoh itu ditanya, mereka akan berfatwa tanpa ilmu pengetahuan. Mereka sesat dan menyesatkan. (HR Muslim).

Sepanjang sejarah Islam, para ulama sejati betul-betul aktif dalam mempertahankan konsep-konsep dasar Islam, mengembangkan ilmu-ilmu Islam, dan menjaganya dari perusakan yang dikerjakan oleh ulama-ulama su’, atau ulama jahat. Penyimpangan dalam bidang keilmuan tak ditolerir sama sekali, dan senantiasa memperoleh perlawanan yang kuat, secara ilmiah. Karena itulah, kerusakan dalam bidang keilmuan patut memperoleh perhatian dari umat Islam. Apalagi kalau kerusakan ilmu itu terjadi di jajaran lembaga-lembaga pendidikan Islam yang diharapkan menjadi pusat perkaderan ulama dan pemimpin umat. [6]
Dari hasil kajiannya kepada gerakan kebangkitan umat di era Perang Salib, Dr. al-Kilani menyimpulkan, bahwa yang pertama kali patut dikerjakan merupakan perubahan dalam diri manusia itu sendiri. “Sesungguhnya Allah tak akan mengubah situasidianalisis yang ada pada satu kaum, sehingga mereka mengubah apa yang ada pada diri mereka.” (QS ar-Ra’d:11). Nabi saw juga menyatakan: “Sesungguhnya di dalam tubuh manusia terdapat segumpal daging, kalau ia bagus, maka baiklah seluruh anggota tubuh. Namun, kalau ia rusak, maka rusaklah seluruh anggota tubuh. Ketahuilah, itu merupakan qalb.” (HR Muslim). Era kejayaan dan kekuatan sepanjang sejarah Islam tercipta ketika terjadi kombinasi dua unsur, yaitu unsur keikhlasan dalam niat dan kemauan serta unsur ketepatan dalam pemikiran dan perbuatan. [7]

kalau strategi ini direfleksikan dalam perjuangan umat Islam Indonesia, maka sudah saatnya umat Islam Indonesia Mengerjakan introspeksi kepada situasidianalisis pemikiran dan moralitas internal mereka, terutamanya para elite dan lembaga-lembaga perjuangannya. patut dikerjakan evaluasi total kepada situasidianalisis internal umat Islam, khususnya mendiagnosa penyakit yang betul-betul membahayakan umat dan telah menghancurkan umat terdahulu, yaitu sikap hubbud dunya, fanatisme kelompok, dan kerusakan ilmu. Introspeksi dan perbaikan internal ini jauh lebih penting dikerjakan dibandingi meneliti situasidianalisis faktor eksternal, sehingga ‘situasidianalisis layak terbelakang dan kalah’ (al-qabiliyyah lit-takhalluf wa al-hazimah) bisa dihilangkan. 

Kita bisa Mengerjakan evaluasi internal, apakah para elite dan lembaga-lembaga pendidikan Islam sudah mengaplikasikan profesionalitas dalam pendidikan mereka?[8] Apakah kultur ilmu dalam Islam sudah berkembang di kalangan para profesor, dosen-dosen, dan guru-guru bidang keislaman? Apakah konsep ilmu dalam Islam sudah diterapkan di lembaga-lembaga pendidikan Islam?[9] Apakah para pelajar mencari ilmu untuk mencari dunia atau untuk meningkatkan ketaqwaan kepada Allah? Apakah budaya kerja keras dan sikap ‘zuhud’ kepada dunia sudah diterapkan para elite umat? Apakah ashabiyah (fanatisme kelompok) masih mewarnai kegiatan umat? Pada tataran keilmuan, bisa diteliti, apakah sudah tersedia buku-buku yang mengajarkan Islam secara benar dan bermutu tinggi pada tiap-tiap bidang keilmuan? 

seluruh ini membutuhkan kerja yang berkualitas, kerja keras, kesabaran, ketekunan, kerjasama beragam potensi umat, dan waktu yang panjang. Karena itu, disamping berbicara tentang bagaimana membangun masa depan Indonesia yang ideal, yang penting dikerjakan merupakan bagaimana membenahi situasidianalisis internal umat Islam dan lembaga-lembaga dakwahnya, agar menjadi sosok-sosok dan lembaga yang bisa diteladani oleh umat manusia.
Sejarah Peradaban Islam di Dunia

Sumber Foto: alfisyahriani/wordpress.com

Jadi, tugas umat Islam bukan hanya menunggu datangnya pemimpin yang akan mengangkat mereka dari keterpurukan. Umat Islam dituntut untuk bekerja keras dalam upaya membangun satu generasi baru yang akan melahirkan pemimpin-pemimpin berkualitas ‘Salahuddin al-Ayyubi’. Dan ini tak mungkin terwujud, Selain kalau umat Islam Indonesia – terutamanya lembaga-lembaga dakwah dan pendidikannya – amat betul-betul serius untuk membenahi konsep ilmu dan para ulama atau cendekiawannya. Dari sinilah diharapkan lahir satu generasi baru yang tangguh (khaira ummah): berilmu tinggi dan beraklak mulia, yang mampu membawa panji-panji Islam ke seluruh penjuru dunia.

kalau generasi baru itu telah lahir, maka akan lahirlah sebuah peradaban baru, sebagaimana pernah terjadi di masa-masa lalu. Wallahu a’lam. (Depok, 16 November 2007)

[1] S.M. Imamuddin, A Political History of Muslim Spain, (Pakistan: S.M. Shahabuddin,1969), 321-323.

[2] Judul dalam bahasa Indonesia merupakan Misteri Masa Kelam Islam dan Kemenangan Perang Salib: Refleksi 50 Tahun Gerakan Dakwah Para Ulama untuk Membangkitkan Umat dan Merebut Palestina (diterjemahkan oleh Asep Sobari Lc dan Amaluddin, Lc, MA). (Bekasi: Kalam Aulia Mediatama, 2007).

[3]  Lihat juga Carole Hillenbrand, The Crusades: Islamic Perspectives, (Edinburg:Edinburg University Press, Ltd., 1999), 112-131. Hillenbrand mencatat tentang diskursus “the greater jihad” (jihad al-nafs) di masa Perang Salib: “The concept of the spiritual struggle, the greater jihad, was well developed by the time of the Crusade and any discussion of jihad in this period should always take into account the spiritual dimension without which the military struggle, the smaller jihad, is rendered hollow and without foundation.” The twelfth-century mystic ‘Ammar al-Bidlisi (d. between 590 and 604/1194 and 1207) analyzed the greater jihad, declaring that man’s lower soul (nafs) is the greatest enemy to be fought.” Abu Shama speaks of Nur al-Din in just these terms: “He conducts a double jihad against enemy and against his own soul.” (hal. 161).

[4] Al-Kilani, Misteri Masa Kelam Islam dan Kemenangan Perang Salib, hal. 78-79. Dalam bukunya, al-Kilani mengutip Ibn Katsir dalam Bidayah wal-Nihayah, yang menggambarkan parahnya situasidianalisis umat Islam dikala itu. Umat dicekam penyakit ashabiyah (fanatisme mazhab) yang parah, kerusakan pemikiran, dan gaya hidup mewah pada kalangan elite. Gubernur Abu Nashr Ahmad bin Marwan, seorang gubernur ketika itu, mengucurkan anggaran 200.000 dinar dalam tiap-tiap acara hiburan yang digelarnya. Tahun 516 Hijriah, dikala Menteri Sultan al-Mahmud terbunuh, bertepatan dengan dikala istrinya keluar dari rumah dengan diiringi 100 pelayan dan kendaraan-kendaraan terbuat dari emas. Padahal, pada dikala yang sama, banyak rakyat yang menderita kelaparan. Ketika pasukan Salib membantai puluhan ribu kaum Muslim, beberapa ulama berusaha menggelorakan semangat jihad kaum Muslim, tetapi gagal. Ada cerita yang menyebutkan, beberapa pengungsi membawa tumpukan tulang manusia, rambut wanita, dan anak-anak, korban kekejaman pasukan Salib, kepada khalifah dan para sultan. Ironisnya, Khalifah justru berkata: “Biarkan aku sibuk dengan urusan yang lebih penting. Merpatiku, si Balqa’, sudah tiga hari menghilang dan aku belum melihatnya.” (hal. 49-65). 

[5] Allah SWT berfirman, yang artinya: “Telah dilaknat orang-orang kafir dari Bani Israil dengan lisan Daud dan Isa Putra Maryam. Yang demikian itu disebabkan mereka durhaka dan senantiasa melampaui batas. Mereka satu sama lain senantiasa tak melarang tindakan munkar yang mereka perbuat. Sesungguhnya amat buruklah apa yang senantiasa mereka perbuat itu.” (QS al-Maidah: 78-79). Jadi, karena tak melarang tindakan munkar diantara mereka, maka kaum Bani Israel itu dikutuk oleh Allah. Rasulullah saw juga memperingatkan: “Tidaklah dari satu kaum berbuat maksiat, dan diantara mereka ada orang yang mampu untuk melawannya, tetapi dia tak berbuat itu, melainkan hampir-hampir Allah meratakan mereka dengan azab dari sisi-Nya.” (HR Abu Dawud, at-Turmudzi, dan Ibnu Majah). Juga, sabda beliau saw: “Hendaklah kamu menjalankan amar ma’ruf dan nahi munkar, atau Allah akan memberikan kekuasaan atasmu kepada orang-orang jahat diantara kamu, dan kemudian orang-orang yang bagus diantara kamu berdoa, lalu tak dikabulkan doa mereka itu.(HR al-Bazzar dan at-Thabrani).

[6] Uraian lebih jauh tentang al-Ghazali dan Perang Salib, lihat Adian Husaini, Hegemoni Kisten-Barat dalam Studi Islam di Perguruan Tinggi (Jakarta: GIP, 2006), bagian Mukaddimah. Lebih jauh tentang bahaya kerusakan ilmu bisa dilihat, pada Wan Mohd Nor Wan Daud, The Educational Philosophy and Practice of Syed Muhammad Naquib al-Attas: An Exposition of the Original Concept of Islamization (Kuala Lumpur: ISTAC, 1998).

[7] al-Kilani, Misteri Masa Kelam Islam dan Kemenangan Perang Salib, 6-7. (Sebagai perbandingan, tak kalah pentingnya kalau kita mengkaji kesuksesan penyebaran dakwah Islam di wilayah Nusantara, khususnya di Tanah Jawa. Para juru dakwah merupakan para wali atau ulama yang bekerja keras dalam mengubah situasidianalisis masyarakat Indonesia, meskipun rakyat ketika itu dipimpin oleh penguasa non-Muslim. Pada akhirnya, rakyat di wilayah itu sendiri yang melahirkan pemimpin-pemimpin muslim, sehingga berdirilah beragam kerajaan Islam di wilayah ini. Maulana Malik Ibrahim, misalnya, diperkirakan tiba di Jawa tahun 1399 M. Kerajaan Islam pertama di Jawa (Demak) baru berdiri tahun 1478 M. Raja Demak pertama, Raden Patah, merupakan santri dari Sunan Ampel, yang tak lain merupakan putra dari Maulana Malik Irahim. Lihat, Saifuddin Zuhri, Sejarah Kebangkitan Islam dan Perkembangannya di Indonesia, (Bandung: al-Maarif, 1981).

[8] Secara lazim, situasidianalisis buku-buku Pelajaran Agama di sekolah dikala ini masih banyak mengandung kelemahan dan kekeliruan. Sekedar Figur, sebuah buku Pendidikan Agama Islam untuk kelas 2 SMA keluaran sebuah penerbit di Bandung, justru merendahkan prestasi keilmuan para ulama di wilayah Nusantara: “bisa dikatakan, bahwa ilmu-ilmu Islam yang berkembang pada masa itu, hanyalah ilmu tasawuf dan tarekat, disamping ilmu fiqih dan tauhid sebagai sekedar pelengkap ibadah semata. Para tokoh dan ulama yang timbul pada masa itu juga hanya ulama-ulama tasawuf dan tokoh-tokoh tarekat. Hampir tak ditemukan nama-nama ulama fiqih, hadits, tafsir, dan yang lainnya, Sejarah Peradaban Islam di Dunia. Di Aceh dan Sumatera misalnya, timbul beberapa ulama nusantara kenamaan, seperti Syaikh Hamzah Fansuri, Syaikh Abdurrauf Singkel, Syaikh Nuruddin ar-Raniri, Syaikh Syamsuddin As-Sumatrani, Abdusshamad Al-Falimbani yang nota bene seluruh merupakan ulama tasawuf dan tokoh tarekat tertentu. Di Jawa juga timbul beberapa ulama seperti Syaikh Nawawi Al-Bantani, Syaikh Siti Jenar dengan kelompok wali songonya, yang juga bisa dikatakan sebagai tokoh tasawuf dan penganut tarekat tertentu. Begitu juga di Sulawesi dan Kalimantan, terdapat nama-nama besar ulama tasawuf dan tokoh-tokoh tarekat. Misalnya, Syaikh Yusuf al-Makassari, Syaikh Arsyad al-Banjari, dan Syaikh Ahmad Khatib Syambas. Mereka telah belajar cukup lama di wilayah dunia Islam, dan pulang ke tanah air sebagai tokoh tasawuf dan tarekat.”

[9] Salah satu masalah dan tantangan besar yang dihadapi oleh umat Islam dikala ini merupakan terjadinya hegemoni konsep keilmuan Barat dalam studi Islam di Perguruan Tinggi. Lebih jauh tentang fenomena ini lihat, Adian Husaini, Wajah Peradaban Barat: Dari Hegemoni Kristen ke Dominasi Sekular Liberal (Jakarta: GIP, 2005) dan Adian Husaini, Hegemoni Kristen-Barat dalam Studi Islam di Perguruan Tinggi, (Jakarta: GIP, 2006).

DAFTAR PUSTAKA

http://insists.multiply.com/

http://www.lintas.me/article/memoridunia.blogspot.com/inilah-sejarah-jatuh-bangunnya-peradaban-islam/1

http://resky-ramadhony.blogspot.com/2011/02/sejarah-jatuh-bangunnya-peradaban-islam.html

http://www.iatekunsri.com/index.php/artikel/artikel-bebas/53-pelajaran-dari-jatuh-bangunnya-peradaban-dunia

Napak Tilas Jatuh Bangunnya Peradaban Islam

Sejarah Lainnya:

sejara bank bri cab kolaka