Sejarah Sosiologi

Sejarah lahirnya sosiologi – Perubahan masyarakat di Eropa Barat akibat Revolusi industri ( Inggris ) dan Revolusi Perancis. Banyak orang pada masa itu berharap bahwa revolusi industri dan revolusi prancis bakal memabawa kemajuan dengan munculnya teknologi baru yang mempermudah sekaligus meningkatkan produksi masyarakat dan berharap akan timbul Kesamaan (egalite), Persaudaraan (fraternite) dan Kebebasan (liberte) yang menjadi semboyan dari revolusi.
Akan tetapi apa yang diharapkan tak ada dalam kenyataan. Revolusi memang telah mendatangkan perubahan namun pada ketika yang sama juga telah mendatangkan kekuatiran yang lebih besar yaitu timbulnya anarki (situasi tanpa aturan) dan kekacauan lebih besar setelah Revolusi Perancis dan sebagai akibat dari Revolusi Industri timbul kesenjangan sosial yang baru antara yang kaya dan yang miskin. ialah Auguste Comte (1798-1857) yang pertama kali membuat diskripsi ilmiah atas situasi sosial hal yang demikian dan dialah juga yang pertama kali menggunakan kata “sosiologi” dalam bukunya The positive Philosophy (1842).
Sejarah Sosiologi
Sejarah Sosiologi


Sejarah sosiologi

1. Teori – teori sosiologi

Ø Gambaran Ringkas Tentang Sejarah Teori-Teori Sosiologi
Teori pada hakekatnya ialah hubungan antara dua fakta atau lebih, atau fakta yang diatur berdasarkan cara tertentu. Fakta hal yang demikian ialah hal yang bisa diteliti dan secara lazim bisa diuji dengan empiris. Bagi orang yang mendalami sosiologi maka teori-teori hal yang demikian mempunyai beberapa manfaat yaitu:
  1. resume dari sesuatu yang telah diketahui serta diuji kebenarannya.
  2. Memberikan petunjuk kepada kekurangan pada yang memperdalam pengetahuannya di bidang sosiologi.
  3. Lebih mengkhususkan fakta yang dipelajari oleh sosiologi.
  4. Mengembangkan sistem klasifikasi fakta, membina struktur-struktur konsep dan mengembangkan definisi yang penting untuk penelitian.
  5. Memberikan kemungkinan untuk mengadakan proyek sosial.

Gambaran tentang perkembangan sosiologi dari sudut teoritis, akan bisa memberikan petunjuk tentang bagaimana mengendalikan perkembangan sosiologi pada masa depan. Masa Auguste Comte digunakan sebagai pembatas, karena yang pertama kali mengemukakan istilah atau pengertian “Sosiologi”. Sosiologi merupakan ilmu pengetahuan yang relatif muda umurnya, karena mulai berkembang sejak masanya Comte. Tetapi perhatian dan pikiran tentang manusia dalm konteks masyarakat telah dimulai sejak jauh sebelum masa Comte.

Plato ialah filosof Romawi yang menelaah masyarakat secara sistematis untuk pertama kalinya. Plato menyatakan, bahwa masyarakat hakekatnya merupakan refleksi dari manusia perorangan. Masyarakat akan mengalami kegoncangan, sebagaimana halnya manusia perorangan yang terganggu keseimbangan jiwanya. Plato telah berhasil menunjukkan hubungan fungsional antara lembaga yang pada hakekatnya merupakan kestuan yang menyeluruh.

Aristoteles mengikuti system analisa secara organis dari Plato. Di dalam bukunya Politics, Aristoteles mengadakan suatu analisa yang mendalam kepada lembaga politik dalam Masyarakat. Ibnu Khaldun mengemukakan beberapa prinsip pokok, untuk menafsirkan kejadian sosial dan peristiwa dalam sejarah. Prinsip-prinsip yang sama bisa ditemui apabila ingin mengadakan analisa kepada timbul dan tenggelamnya negara-negara.

Abad ke tujuh belas tulisan Hobbes timbul, dia beranggapan bahwa dalam keadaan alamiah, kehidupan manusia didasarkan pada keinginan-keinginan yang mekanis, sehingga manusia senantiasa berkelahi. Alam pikiran pada abad ke tujuh belas masih ditandai oleh anggapan bahwa lembaga kemasyarakatan terikat dengan hubungan-hubungan yang tetap.

Meskipun ajaran pada abad ke delapan belas masih bersifat rasionalistis, namun sifatnya yang dogmatis sudah agak berkurang. Pada abad ini timbul John Locke dan J.J Rousseau tang masih berpegang pada konsep kontrak social dari Hobbes. Menurt Locke manusia pada dasarnya mempunyai HAM. Kontrak antar warga masyarakat pada dasrnya dikarenakan factor pamrih. Rousseou berpendapat bahwa kontrak antara atasan dan bawahan menyebabkan tumbuhnya kolektivitas yang mempunyai keinginan lazim.

Pada awal abad ke sembilan belas timbul ajaran-ajaran Saint-Simon yang khususnya menyatakan, bahwa manusia hendaknya dipelajari dalam kehiduoan berkelompok. Dia menyatakan bahwa ilmu politik ialah suatu ilmu yang positif. Masyarakat bukanlah semata-mata suatu kumpulan orang-orang yang tindakannya tak memilki karena. Kumpulan hal yang demikian tercipta karena orang-orang tertentu menggerakkan manusia yang lain untuk melaksanakan fungsi-fungsi tertentu.

Ø Sosiologi Auguste Comte (1798-1853)
Auguste Comte pertama-pertama memakai istilah soiologi yaitu orang pertama yang membedakan antara ruang lingkup. berdasarkan Comte ada 3 tahap perkembangan intelektual. Tahap pertama manusia senantiasa menggambarkan kejadian di sekitar dengan kekuatan yang dikendalaikan Tuhan atau roh dewa. Tahap kedua manusia terikat oleh cita-cita tanpa verifikasi dan tahap ketiga yaitu memusatkan perhatian pada gejala-gejala yang nyata dan konkrit. Ketiga tahap hal yang demikian bisa memberikan penerangan pada manusia. Hal yang menonjol dari sistematika Comte yaitu penilaian kepada sosiologi sebagai ilmu pengetahuan yang paling kompleks dan bisa berkembang dengan pesat. Comte membedakan antara sosiologi dinamis dan statis. Sosiologi statis merupakan semacam anatomi sosial yang mempelajari reaksi timbal balik dari sistem sosial. Ilmu pengetahuan yang menggambarkan perkembangan manusia dari tingkat intelegensi yang rendah ke tingkat yang lebih tinggi. berdasarkan comte masyarakat akan berkembang untuk mencapai kesempurnaan.

Ø Teori Sosiologi Setelah Comte
Teori Setelah Comte banyak diberi pengaruh oleh ilmu lain. Pengaruh yang mencolok karena itudipilih beberapa teori yang dikelompokkan kedalam beberapa mazhab

2. Mazhab Dalam Sosiologi

Ø Mazhab Formal
Mazhab ini mengatakan bahwa elemen-elemen masyarakat mencapai kesatuan melalui format-format yang mengatur hubungan antara elemen-elemen hal yang demikian, selain itu berjenis-jenis lembaga dalam masyarakat terwujud dalam format superioritas, subordinasi, dan konflik. seluruh hubungan-hubungan sosial, keluarga, agama, peperangan, perdagangan, kelas-kelas bisa diberi karakteristik menurt salah satu format diatas.

Seorang menjadi warga masyarakat untuk mengalami proses individualisasi

dan sosialisasi. Tanpa menjadi warga masyarakat tak akan mungkin seseorang mengalami proses interaksi antara individu dengan kelompok. Dengan perkataan lain apa yang memungkinkan masyarakat berproses ialah bahwa tiap orang mempunyai peranan yang mesti dijalankannya. Maka interaksi individu dengan kelompok hanya bisa dimengerti dalam kerangka peranan yang dijalankan oleh individu.

Sosiologi mesti memusatkan perhatian pada hubungan-hubungan antara manusia tanpa mengaitkannya dengan tujuan-tujuan ataupun kaidah-kaidah bersifat empiris dan berusaha untuk mengadakan kuantifikasi kepada proses-proses sosial yang terjadi. Proses sosial merupakan hasil perkalian dari sikap dan keadaaan yang masing-masing bisa diuraikan kedalam unsur-unsurnya secara sistematis. Itulah pra ditelaah suatu masyarakat yang hanya bisa berkembang penuh dalam kehidupan berkelompok atau alam masyarakat setempat (community).

Ø Mazhab Psikologi
Mazhab ini mengatakan bahwa gejala sosial mempunyai sifat psikologis yang terdiri dari interaksi antara jiwa-jiwa individu dimana jiwa hal yang demikian terdiri dari kepercayaan-kepercayaan dan keinginan-keinginan. format-format utama dari interaksi mental individu-individu ialah imitasi, oposisi dan adaptasi atau penemuan baru, dengan demikian mungkin terjadi perubahan sosial yang disebabkan oleh penemuan-penemuan baru. Hal ini menimbulkan imitasi, oposisi penemuan-penemuan baru, perubaha-perubahan, dan seterusnya. Hal ini merupakan suatu petunjuk betapa besarnya pengaruh pendekatan psikologis. Ajaran ini betul-betul berpengaruh di Amerika, dimana banyak sosilog yang mengadakan analitik kepada reaksi-reaksi individu kepada individu, ataupun dari kelompok kepada kelompok lainnya.

Selain itu individu dan masyarakat saling melengkapi dimana individu hanya menemukan bentuknya di dalam masyarakat. Hubungan antar pribadi yang dekat sekali dalam kelompok-kelompok tadi kekerasan manusia akan bisa berkembang dengan leluasa. Kehidupan sosial berkembang kearah keadaan yang lebih rasional dan harmonis. Dengan demikian perkembangan sosial terjadi apabila kesadaran sosial dan kebutuhan-kebutuhan sosial meningkat.


Ø Mazhab Ekonomi
Dari mazhab ini, akan dikemukakan ajaran-ajaran dari Karl Marx (1818-1883) dan Max Weber (1864-1920) dengan catatan bahwa ajaran-ajaran Max weber hakekatnya mengandung aneka macam segi sebagaimana halnya dengan Durkheim.

berdasarkan Marx, selama masyarakat masih terbagi atas kelas-kelas, maka pada kelas yang berkuasalah akan terhimpun segala kekuatan dan kekayaan. Hukum, filsafat, agama dan kesenian merupakan refleksi dari status ekonomi kelas hal yang demikian. Namun demikian, hukum-hukum perubahan berperan dalam sejara, sehingga keadaan hal yang demikian bisa berubah bagus melalui suatu revolusi ataupun secara damai. Akan tetapi, selama masih ada kelas yang berkuasa, maka tetap terjadi eksploitasi kepada kelas yang lebih lemah. Oleh karena itu, senantiasa timbul pertikaian antara kelas-kelas hal yang demikian, yang akan berakhir apabila salah satu kelas (yaitu kelas proletar) menang sehingga terjadilah masyarakat tanpa kelas.

Ø Mazhab Hukum
Hukum berdasarkan Durkheim ialah kaidah-kaidah yang bersanksi yang berat ringannya tergantung pada sifat pelanggaran, anggapan-anggapan, serta keyakinan masyarakat tentang bagus buruknya suatu tindakan. Di dalam masyarakat bisa ditemukan dua macam sanksi kaidah-kaidah hukum, yaitu sanksi yang represif dan sanksi yang restitutif.

Kaidah hukum dengan sanksi represif biasanya mendatangkan penderitaan bagi pelanggar-pelanggarnya. Kaidah-kaidah hukum dengan sanksi dengan sanksi demikian ialah hukum pidana.

Selain kaidah-kaidah dengan sanksi-sanksi negatif yang mendatangkan penderitaan, akan bisa dijumpai pula kaidah-kaidah hukum yang sifat sanksi-sanksinya berbeda dengan kaidah-kaidah hukum yang represif. Tujuan utama kaidah-kaidah hukum ini ialah untuk mengembalikan keadaan pada situasi semula, sebelum terjadi kegoncangan sebagai akibat dilanggarnya suatu kaidah hukum. Artinya, yang terpokok ialah untuk mengembalikan kedudukan seseorang yang dirugikan ke keadaan semula, yang merupakan hal yang penting di dalam menyelesaikan perselisihan-perselisihan atau sengketa-sengketa.

Budaya hukum mencakup segala macam gagasan, sikap, harapan ataupun pendapat-pendapat mengenai hukum. berdasarkan Daniel S. Lev dalam artikelnya yang berjudul “Judicial Institutions and Legal Culture in Indonesia” , konsepsi budaya hukum menunjuk pada nilai-nilai yang berhubungan dengan hukum dan proses hukum. Nilai-nilai hukum substansif berisikan asumsi-asumsi fundamental mengenai distribusi dan penggunaan sumber-sumber di dalam masyarakat, hal-hal yang secara sosial dianggap benar atau salah, dan seterusnya. Nilai-nilai hukum adjektif mencakup sarana pengaturan sosial ataupun pengelolaan konflik yang terjadi dalam masyarakat yang bersangkutan.


3. Perkembangan Sosiologi di Indonesia
Ø Sebelum Perang Dunia Kedua
Walau masa lampau para pujangga dan pemimpin indonesia belum pernah mengenal dan mempelajari teori-teori sosiologi sebagai ilmu pengetahuan, banyak diantara mereka yang memasukkkan unsur-unsur sosiologi ke dalam ajaran-ajarannya. Ki Dewantoro ialah orang pertama yang meletakkan dasar-dasar bagi pendidikan di Indonesia. Beliau memberikan sumbangan yang betul-betul banyak pada sosiologi dengan konsep-konsepnya mengenai kepemimpinan dan kekeluargaan Indonesia yang dengan nyata diterapkan dan dipraktekkan dalam organisasi pendidikan Taman Siswa.

Dari penjelasan di atas bisa disimpulkan bahwa unsur-unsur sosiologi tak digunakan dalam suatu ajaran melainkan sebagai landasan tujuan lain, yaitu ajaran tata hubungan antar manusia dan pendidikan. Dengan begitu pada waktu itu sosiologi di Indonesia dianggap sebagai pembantu bagi ilmu pengetahuan lainnya. Pada ketika itu sosiologi belumlah cukup dianggap penting untuk dipelajari dan dipergunakan sebagai ilmu pengetahuan. Pada waktu itu di Jakarta hanya Sekolah Tinggi Hukum yang merupakan satu-satunya perguruan tinggi sebelum perang dunia kedua yang memberikan kuliah sosiologi. Di hukum, sosiologi hanya sebagai pelengkap bagi mata kuliah ilmu hukum. Justru pada tahun 1934/1935 kuliah sosiologi di perguruan tinggi hal yang demikian ditiadakan karena dianggap tak penting dalam pelajaran ilmu hukum. bisa disimpulkan bahwa pada ketika itu yang mana hanya teori yang diutamakan Walaupun ilmunya belum dianggap penting untuk dipelajari.

Ø Setelah Perang Dunia Kedua
Setelah proklamasi kemerdekaan Indonesia, seorang sarjana Indonesia yaitu Senario Kolopaking pertama kalinya memberi kuliah sosiologi pada tahun 1948. Beliau memberikan kuliah-kuliah di dalam bahasa Indonesia. Hal hal yang demikian merupakan sesuatu kejadian baru karena sebelum perang dunia kedua, seluruh kuliah pada perguruan-perguruan tinggi diberikan dalam bahasa Belanda.

Buku sosiologi dalam bahasa Indonesia mulai diterbitkan sejak satu tahun setelah pecahnya revolusi fisik, yaitu Sosiologi Indonesia oleh Djody Gondokusumo yang memuat beberapa pengertian elementer dari sosiologi yang teoritis dan bersifat sebagai filsafat. Selanjutnya dapatlah dikemukakan buku karangan Hassan Shadily dengan judul Sosiologi untuk Masyarakat Indonesiayang merupakan buku pelajaran pertama di dalam bahasa Indonesia yang memuat bahan-bahan sosiologi yang modern.

Sepanjang pengetahuan, Selain buku Mayor Polak, pada dewasa ini buku lain dalam bahasa Indonesia mengenai masalah-masalah sosiologi khusus ialah Sosiologi Hukum oleh Satjipto Rahardjo, Soerjono Soekanto, dan lain-lain, serta juga Sosiologi Kota oleh N. Daldjoeni dan seterusnya.

Pada dewasa ini telah ada sejumlah Universitas Negeri yang mempunyai Fakultas Sosial dan Politik atau Fakultas Ilmu Sosial di mana sosiologi dikuliahkan hingga ke tingkat lebih tinggi daripada tingkat persiapan. Dari jurusan sosiologi itulah diharapkan sumbangan dan dorongan lebih besar untuk mempercepat dan memperluas perkembangan sosiologi di Indonesia untuk kepentingan lazim dan masyarakat

Interaksi sosial merupakan suatu fondasi dari hubungan yang berupa tindakan yang berdasarkan norma dan nilai sosial yang berlaku dan diterapkan di dalam masyarakat. Dengan adanya nilai dan norma yang berlaku,interaksi sosial itu sendiri bisa berlangsung dengan bagus apabila aturan – aturan dan nilai – nilai yang ada bisa dijalankan dengan bagus. apabila tak adanya kesadaran atas pribadi masing – masing,maka proses sosial itu sendiri tak bisa berjalan pantas dengan yang kita harapkan. Di dalam kehidupan sehari – hari tentunya manusia tak bisa lepas dari hubungan antara satu dengan yang lainnya,ia akan senantiasa perlu untuk mencari individu ataupun kelompok lain untuk bisa berinteraksi ataupun bertukar pikiran. berdasarkan Prof. Dr. Soerjono Soekamto di dalam pengantar sosiologi, interaksi sosial merupakan kunci seluruh kehidupan sosial. Dengan tak adanya komunikasi ataupun interaksi antar satu sama lain maka tak mungkin ada kehidupan bersama. apabila hanya fisik yang saling berhadapan antara satu sama lain, tak bisa menghasilkan suatu format kelompok sosial yang bisa saling berinteraksi. Maka dari itu bisa disebutkan bahwa interaksi merupakan dasar dari suatu format proses sosial karena tanpa adanya interaksi sosial, maka kegiatan–kegiatan antar satu individu dengan yang lain tak bisa disebut interaksi.

Syarat interaksi sosial
berdasarkan Soerjono Soekanto, interaksi sosial tak mungkin terjadi tanpa adanya dua syarat, yaitu kontak sosial dan komunikasi.

Kontak Sosial
Kata “kontak” (Inggris: “contact”) berasal dari bahasa Latin con atau cum yang artinya bersama-sama dan tangere yang artinya menyentuh. Jadi, kontak berarti bersama-sama menyentuh. Dalam pengertian sosiologi, kontak sosial tak senantiasa terjadi melalui interaksi atau hubungan fisik, karena orang bisa Menjalankan kontak sosial dengan pihak lain tanpa menyentuhnya, misalnya bicara melalui telepon, radio, atau surat elektronik. Oleh karena itu, hubungan fisik tak menjadi syarat utama terjadinya kontak. Kontak sosial mempunyai sifat-sifat berikut. Kontak sosial bisa bersifat positif atau negatif. Kontak sosial positif mengarah pada suatu kerja sama, Walaupun kontak sosial negatif mengarah pada suatu pertentangan atau konflik. 

Kontak sosial bisa bersifat primer atau sekunder. Kontak sosial primer terjadi apabila para peserta interaksi bertemu muka secara langsung. Misalnya, kontak antara guru dan murid di dalam kelas, penjual dan pembeli di pasar tradisional, atau pertemuan ayah dan anak di meja makan. Sementara itu, kontak sekunder terjadi apabila interaksi berlangsung melalui suatu perantara. Misalnya, percakapan melalui telepon. Kontak sekunder bisa dijalankan secara langsung dan tak langsung. Kontak sekunder langsung misalnya terjadi ketika ketua RW mengundang ketua RT datang ke rumahnya melalui telepon. Sementara apabila Ketua RW menyuruh sekretarisnya menyampaikan pesan kepada ketua RT agar datang ke rumahnya, yang terjadi ialah kontak sekunder tak langsung. 

Komunikasi
Komunikasi merupakan syarat terjadinya interaksi sosial. Hal terpenting dalam komunikasi yaitu adanya kegiatan saling menafsirkan perilaku (pembicaraan, gerakan-gerakan fisik, atau sikap) dan perasaan-perasaan yang disampaikan. Ada lima unsur pokok dalam komunikasi yaitu sebagai berikut. 
Komunikator, yaitu orang yang menyampaikan pesan, perasaan, atau pikiran kepada pihak lain. 
Komunikan, yaitu orang atau sekelompok orang yang dikirimi pesan, pikiran, atau perasaan. 
Pesan, yaitu sesuatu yang disampaikan oleh komunikator. Pesan bisa berupa informasi, perintah, dan perasaan. 
Media, yaitu alat untuk menyampaikan pesan. Media komunikasi bisa berupa lisan, tulisan, gambar, dan film. 
Efek, yaitu perubahan yang diharapkan terjadi pada komunikan, setelah mendapat pesan dari komunikator. 

Ada tiga tahap penting dalam proses komunikasi. Ketiga tahap hal yang demikian ialah sebagai berikut:
Encoding
Pada tahap ini, gagasan atau program yang akan dikomunikasikan diwujudkan dalam kalimat atau gambar. Dalam tahap ini, komunikator mesti memilih kata, istilah, kalimat, dan gambar yang mudah dipahami oleh komunikan. Komunikator mesti menghindari penggunaan kode-kode yang membingungkan komunikan.

Penyampaian
Pada tahap ini, istilah atau gagasan yang sudah diwujudkan dalam format kalimat dan gambar disampaikan. Penyampaian bisa berupa lisan, tulisan, dan gabungan dari keduanya.

Decoding
Pada tahap ini dijalankan proses mencerna dan memahami kalimat serta gambar yang diterima berdasarkan pengalaman yang dimiliki.