Sejarah Suku Jawa

Sejarah Suku Jawa – Suku bangsa Jawa yaitu suku bangasa Indonesia yang paling banyak jumlahnya, menempati seluruh daerah jawa tengah, jawa timur dan beberapa jawa barat mereka menggunakan bahasa jawa secara keseluruhan, hanya saja terdapat perbedaan dialek di daerah tertentu. Suku bangsa jawa termasuk suku bangsa yang telah maju kebudayaannya, karena sejak zaman dahulu mereka telah banyak mendapat pengaruh dari beragam kebudayaan, seperti : kedubayanan Hindu, Budha, Islam dan Eropa. Setelah mengetahui suku bangsa di Indonesia maka sekarang penyusun akan membahas tentang salah satu suku di Indonsia yaitu Suku jawa.

Sejarah Suku Jawa 
Asal-usul suku Jawa banyak versinya. Versi yang paling populer yaitu bahwa leluhur orang Jawa yaitu Ajiasaka, Pandita dari India yang datang ke Jawa. Kisah Ajisaka dan murid-muridnya kemudian digunakan sebagai patokan aksara Jawa (ha na ca ra ka …).  Versi lain mengatakan nenek moyang orang Jawa datang dari sekitar lereng Gunung Merapi. Karena di lereng dan kaki gunung Merapi berdiri kerajaan Mataram kuno, yang mana mereka mendirikan Candi Borobudur. Kerajaan Maratam Kuno kemudian pindah ke Jawa Timur karena bencana dahsyat letusan Gunung Merapi yang bahkan membuat Borobudur terkubur tanah. 

Sejarah Suku Jawa
Sejarah Suku Jawa

bila ditarik ribuan tahun ke belakang, di Jawa sudah ada kehidupan. Bahkan di Sangiran (Sragen), ditemukan fosil manusia purba, lebih-lebih dari Macam phitecanthropus erectus. Jauh-hari bahkan di Mojokerto (Jawa Timur) sudah hidup nenek moyang manusia Jawa yang diberi julukan Homo Mojokertensis. Mereka hidup 200 ribu tahun yang lalu. 

Masyarakat Jawa sekarang mendiami wilayah Jawa Tengah, Jawa Timur dan Yogyakarta. bila diperluas, mereka yang tinggal di Cirebon dan Indramayu juga diklasifikasikan sebagai orang Jawa karena bahasa yang mereka gunakan lebih dekat ke bahasa Jawa daripada bahasa Sunda. banyak orang Jawa menetap di selatan Sumatera (Lampung dan sekitarnya), beberapa besar Banten (Keturunan pasukan Mataram) Jakarta dan Sumatera Utara. Hal ini terjadi karena beragam alasan, antara lain: kolonial Belanda membawa orang Jawa ke tempat-tempat itu untuk menjadi buruh perkebunan. Selain itu, etnis Jawa juga menyebar ke Suriname. 

Bahasa Jawa (ngoko dan Kromo) lazim digunakan dalam bahasa sehari-hari perintah. Tentu ada beberapa dialek. Ada dialek Yogya-Solo, semarangan, Banyumasan, Tegal dan Jawa Timur.  Soal kehidupan beragama, setelah kedatangan Wali Songo, umumnya orang Jawa yaitu Muslim. beberapa kecil masih Hindu dan Budha, selain Kristen dan Katolik. Ada juga masih memegang ajaran-ajaran kejawen. 

Orang Jawa diketahui halus dan sungguh-sungguh tepo seliro. Juga tak suka konflik. Di lain pihak, di mata suku Non-jawa, orang Jawa di kenal penakut dan suka main belakang. namun, apapun dan bagaimanapun, orang Jawa yaitu mayoritas di Indonesia dan sungguh-sungguh mendominasi sektor pemerintahan dan kebudayaan.  Suku Jawa yaitu suku bangsa yang terbesar di Indonesia, dengan jumlahnya di sekitar 90 juta. Mereka berasal dari pulau Jawa dan menghuni khususnya di provinsi Jawa Tengah serta Jawa Timur tetapi di provinsi Jawa Barat, Banten dan tentu saja di Jakarta, mereka juga banyak ditemukan. 

berdasarkan Prof. Mr. Hardjono.almarhum, Guru Besar Universitas Gaja Mada, ditahun 1980-an mengatakan mengenai arti Jawa atau Jawi dari sudut pandang kebatinan. Begini katanya : Dimas, banyak orang yang sebetulnya tak mengerti arti kata Jawa atau Jawi. Ja itu artinya lahir dan wi artinya burung., jadi seperti burung, manusia itu mesti melewati dua tahapan untuk menjadi manusia sempurna. Pertama terlahir sebagai telur, baru kemudian terbuka menjadi burung. Beliau tak mau menjelaskan artinya yang terang, dan membiarkan kita untuk mengkajinya lebih dalam lagi. 

Berikut yaitu beberapa aspek yang bisa menggambarkan masyarakat suku jawa secara lazim. 

1) Kepercayaan Suku Jawa
Agama Islam berkembang bagus di Jawa. Hal ini tampak dari banyaknya bangunan-bangunan tempat ibadat agama ini. Agama Islam yaitu agama mayoritas masyarakat Jawa. Selain itu ada juga penganut agama Katolik, Kristen Protestan, Hindu, Budha, dan aliran kepercayaan kepada Tuhan Yang Maha Esa. 

Kebanyakan orang Jawa percaya bahwa hidup manusia ini sudah diatur dalam alam semesta, sehingga tak sedikit dari mereka yang bersikap nrimo, yaitu menyerahkan diri pada takdir. Selain itu, orang Jawa percaya kepada kekuatan atau kesakten (kesaktian) yang terdapat pada benda- benda pusaka, seperti : keris, gamelan, dan lain-lain. Mereka juga mempercayai keberadaan arwah dan roh leluhur, dan mahluk-mahluk halus seperti memedi, lelembut, tuyul, serta jin yang menempati alam sekitar tempat tinggal mereka. berdasarkan kepercayaan, mahluk halus hal yang demikian bisa mendatangkan kesuksesan, kebahagiaan, ketentraman, atau keselamatan. Tetapi sebaliknya ada juga mahluk halus yang bisa menimbulkan ketakutan dan kematian. 

2) Ekonomi Suku Jawa
Bertani merupakan mata pencaharian beberapa besar masyarakat pedesaan di Jawa. Pekerjaan pertanian ini dikerjakan dengan membuat kebun kering (tegalan) atau membuat sawah. Selain tanaman padi, masyarakat pedesaan di Jawa biasanya menanam ketela pohon, jagung, ketela rambat, kedelat, kacang tanah, kacang tunggak, gude, dan lain-lain. 

Penduduk desa tak semuanya mempunyai tanah pertanian yang luas. Bahkan ada yang tak mempunyai tanah sama sekali yang tak mempunyai tanah akhirnya terpaksa bekerja menjadi buruh atau menyewa tanah dengan bagi hasil. Buruh tani Melaksanakan pekerjaan seperti: mencangkul, memantun, membajak, menggaru, dan menuai di sawah milik orang lain (gacong). Besarnya upah ditentukan berdasarkan angkatan ia bekerja. Satu angkatan sama dengan waktu kerja selama 4 jam 06.00 hingga 10.00 pagi; angkatan kedua dari jam 10.00 hingga jam 14.00 siang. Angkatan ketiga dari jam 14.00 siang hingga jam 18.00 sore. 

Selain dari pertanian, masyarakat Jawa juga menjalankan beberapa usaha sambilan untuk menambah pendapatan, seperti: membuat tempe kara benguk (mucuna utilis), mencetak bata merah, mbotok, membuat minyak goreng kelapa, membatik, menganyam tikar, tukang kayu, tukang batu, reparasi sepeda, dan lapangan pekerjaan lain. 

3) Kesenian Suku Jawa
Masyarakat Jawa sungguh-sungguh kaya akan kesenian yang terdiri dari seni bangunan, seni tari, seni musik, seni pertunjukan, dan seni kerajinan. 

Salah satu unsur seni yang menonjol yaitu seni musik. Gamelan merupakan seni musik jawa yang sungguh-sungguh terkenal. Gamelan yaitu Macam alat musik pukul (perkusi) yang terbuat dari besi, kuningan, atau perunggu. Seperangkat gamelan biasanya terdiri dari : gambang, bonang, barang penerus, gender, slentem, sarom, peking, kenong, kempul, dan gong. Selain itu gamelan juga dilengkapi dengan kendang, seruling, rebab, dan siter. 

4) Bahasa Suku Jawa
Sebahagian besar suku bangsa Jawa menuturkan bahasa Jawa sebagai bahasa percakapan harian. Sebuah tinjauan pendapat yang dijalankan oleh Majalah Tempo pada awal dekade 1990-an menunjukkan bahwa hanya sekitar 12% daripada orang-orang Jawa menggunakan bahasa Indonesia sebagai bahasa pertuturan harian. Sekitar 18% menggunakan campuran bahasa Jawa dan bahasa Indonesia, dengan yang lain menuturkan bahasa Jawa sebagai bahasa utama mereka. 

Keturunan-keturunan masyarakat Jawa berpendapat bahawa bahasa Jawa yaitu bahasa yang sungguh-sungguh sopan dan mereka, khususnya orang-orang yang lebih tua, menghargai orang-orang yang menuturkan bahasa mereka. Bahasa Jawa juga sungguh-sungguh mempunyai arti yang luas. 

5) Susunan Lapisan Sosial Suku Jawa
Masyarakat Jawa juga terkenal kerana pembahagian golongan sosialnya. Pada dekade 1960-an, Clifford Geertz, pakar antropologi Amerika Syarikat yang ternama, membahagikan masyarakat Jawa kepada tiga buah kelompok, yakni kaum santri, kaum abangan, dan Kaum priyayi 

berdasarkan beliau, kaum santri yaitu penganut agama Islam yang warak, manakala kaum abangan yaitu penganut Islam pada nama saja atau penganut Kejawen, dengan kaum priyayi merupakan kaum bangsawan. Tetapi kesimpulan Geertz ini banyak ditentang kerana ia mencampurkan golongan sosial dengan golongan kepercayaan. Pengelasan sosialnya juga dicemari oleh penggolongan kaum-kaum lain, misalnya orang-orang Indonesia yang lain serta juga suku-suku bangsa bukan pribumi seperti keturunan-keturunan Arab, Tionghoa dan India. 

6) Stereotaip Orang Jawa 
Orang Jawa terkenal sebagai suku bangsa yang sopan dan halus, tetapi mereka juga terkenal sebagai suatu suku bangsa yang tertutup dan tak mahu terus terang. Sifat ini konon berdasarkan sifat orang Jawa yang ingin memeliharakan keharmonian atau keserasian dan menghindari pertikaian. Oleh itu, mereka cenderung diam saja dan tak membantah apabila tertimbulnya percanggahan pendapat. Salah satu kesan yang buruk daripada kecenderungan ini yaitu bahwa mereka biasanya dengan mudah menyimpan dendam. 

Orang suku Jawa juga mempunyai kecenderungan untuk membeda- bedakan masyarakat berdasarkan asal-usul dan kasta atau golongan sosial. Sifat seperti ini dikatakan merupakan sifat feodalisme yang berasal daripada ajaran-ajaran kebudayaan Hindu dan Jawa Kuno yang sudah diyakini secara turun-temurun oleh masyarakat Jawa sehingga sekarang. 

7) Tokoh – Tokoh Jawa 

Berikut ini tokoh-tokoh terkemuka yang berasal dari jawa. 
  1. Abdurrahman Wahid, bekas Presiden Republik Indonesia 
  2. RA. Kartini, pahlawan negara 
  3. Michelle Branch, penyanyi internasional berketurunan Jawa 
  4. Suharto, bekas Presiden Republik Indonesia 
  5. Sukarno, pengasas negara serta bekas Presiden Republik Indonesia 
  6. Susilo Bambang Yudhoyono, Presiden Republik Indonesia 
  7. Megawati Soekarno Poetri, mantan Presiden Republik Indonesia dan sekaligus presiden wanita pertama di indonesia. 

C. Model penggunaan Hukum pada Suku Jawa 
Suku jawa merupakan suatu kelompok sosial yang paling besar kuantitasnya di Indonesia. Dan pada dasarnya, dimana ada kelompok sosial di situlah ada hukum. berdasarkan Volkgeist, “hukum tumbuh dan berkembang di masyarakat”. Sehingga bisa diambil pemahaman, bahwa tanpa adanya suatu badan hukum pun, suku jawa zaman dulu sudah memakai suatu model hukum berupa hukum kebiasaan (adat istiadat). 

Hukum kebiasaan atau adat istiadat yaitu himpunan kaidah sosial berupa kultur yang umumnya bersifat sakral yang mengatur tata kehidupan sosial masyarakat tertentu. Adat istiadat ini sejak lama dianut, hidup, dan berkembang dalam masyarakat tertentu, misalnya upacara pelaksaan perkawinan suku jawa. 

Figur hukum di atas menggambarkan bahwa suku Jawa kental akan adat istiadat yang mereka sendiri menganggapnya sebagai sebuah hukum. 

Hukum adat suku Jawa tercermin dari banyaknya upacara adat yang dalam kepercayaan mereka upacara itu merupakan sebuah keharusan yang apabila tak dikerjakan akan datang sanksi penguasa alam semesta (bencana). 

D. Kajian Antropologi pada Suku Jawa 
Pada dasarnya antropologi dibagi ke dalam dua garis besar, yakni antropologi fisik dan antropologi budaya. Dan dalam hal ini, kami mencoba mengupas keduanya, tentang bagaimana kajian antropologi fisik suku jawa dan kajian antropologi budayanya. 

1) Antropologi fisik suku Jawa 
Orang Jawa yaitu sebutan bagi orang yang tinggal di Jawadwipa atau di pulau Jawa pada dulu kala. Pada dikala ini yang dinamakan orang Jawa yaitu penduduk yang menghuni di pulau Jawa bagian tengah dan timur yang disebut suku bangsa Jawa dan anak keturunannya. 

Dalam khasanah Arkeologi, nama Java Man sudah tak asing lagi, ini menunjuk kepada nenek moyang orang Jawa dikala purba. Situs manusia purba di Indonesia, pulau Jawa yaitu di Sangiran yang terbelah sisi utara dan selatan karena dilewati aliran Kali Cemoro yang mengalir dari Gunung Merapi menuju ke Bengawan Solo. Bagian utara termasuk wilayah Desa Krikilan, Sragen, Padahal yang belahan selatan masuk Desa Krendowahono, Karanganyar. 

Penelitian dalam rangka mencari fosil nenek moyang manusia di Sangiran sudah dimulai sejak 1893 oleh peneliti Eugene Dubois. Dia menemukan fosil manusia purba di Trinil, Ngawi, Jawa Timur, yang dinamakan Pithecanthropus Erectus, artinya manusia kera yang berjalan tegak. 

Penelitian di Sangiran dilanjutkan kembali secara intensif sejak 1930 oleh J.P. van Es dan 1934 oleh GHR von Koenigswald.tak kurang dari seribu alat-alat dari batu buatan manusia yang pernah tinggal disini diketemukan. 

Alat dari batuan kaldeson yang dipecahkan itu bisa dipergunakan untuk memotong, menyerut dan untuk meruncingkan tombak. Oleh von Koenigswald alat-alat itu disebut alat serpih dari Sangiran (The Sangiran Flake Industry). 

Meganthropus Paleojavanicus, manusia purba yang punya fosil rahang atas yang ukurannya besar diketemukan ditahun 1936. Selanjutnya ditahun 1937 diketemukan fosil manusia purba yang dinamakan Pithecanthropus Erectus. Penemuan spektakuler ini melibatkan banyak peneliti kondang dari manca negara dan para spesialis Indonesia seperti R.P. Soejono, Teuku Yacob, S.Sartono, Hari Widianto dll. 

Juga ikut terlibat beragam lembaga peneliti seperti American Museum of National History, Biologisch-Archaelogisch Institut, Groningen, Tokyo University, Padova University, National d”Histoire Naturelle, Paris, Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi, Bandung, Pusat Penelitian Arkeologi Nasional, Balai Arkeologi Yogyakarta dll. 

Pemerintah RI telah menetapkan daerah Sangiran seluas 56 km2 sebagai Daerah Cagar Budaya. Pada 5 Desember 1996, Situs Sangiran oleh Unesco dinyatakan sebagai Warisan Budaya Dunia, World Heritage List No. 593, dengan nama Sangiran Early Man Site, Situs Hunian Manusia Purba Sangiran. 

berdasarkan penelitian geologis, Situs Sangiran sudah timbul 3( tiga) juta tahun lalu dan merupakan perbukitan dengan struktur kubah ditengahnya, disebut Sangiran Dome. 

Sekitar 1.8 hingga 1 juta tahun lalu ,daerah Jawa Tengah dan Timur merupakan lembah ,yang sebelah selatan dibatasi Gunung Selatan, sebelah utara oleh Gunung Kendeng. Lembah itu beberapa besar berupa danau dan rawa-rawa. Disebelah timur lembah berupa lautan. Ditengah lembah ada gunung a.l. Gunung Lawu Purba dan Gunung Wilis. 

Pada dikala itulah mulai timbul kehidupan manusia purba disekitar rawa- rawa dan muara sungai Cemoro yang bersumber di Gunung Merapi. Homo Erectus yang diketahui sebagaiJava Man tinggal disekitar sungai Cemoro sekarang dan kehidupannya berkembang terus dengan diketemukannya ribuan alat-alat batu. 

Selain fosil manusia purba, juga diketemukan fosil-fosil hewan purba seperti: Gajah, Banteng, Kerbau, Rusa, Kuda Nil, hippopotamus dll. Kuda Nil Sangiran ini ukuran besar dan beratnya duakali lipat dari kuda Nil yang ada sekarang ini! 

Temuan fosil manusia, hewan dan peralatan batu yang jumlahnya ribuan bisa dilihat di Musium Sangiran. 

Perkembangan budaya dari manusia purba menjadi manusia modern berjalan dalam kurun waktu yang sungguh-sungguh lama. Ini yaitu uraian dari segi ilmiah mengenai keberadaan orang Jawa dan anak keturunannya yang menghuni pulau ini sejak dahulu kala. 

2) Antropologi budaya suku Jawa 
Masyarakat Jawa hidup dalam lingkungan adat istiadat yang sungguh-sungguh kental. Adat istiadat suku Jawa masih sering digunakan dalam beragam kegiatan masyarakat. Mulai masa-masa kehamilan hingga kematian. Ini merupakan sebuah bahan kajian yang sungguh-sungguh menarik untuk dituangkan ke dalam sebuah makalah. Maka, saya coba kupas satu per-satu dari mulai masa kehamilan hingga kematian pada adat suku jawa. 

a) Adat Istiadat Suku Jawa dikala Kehamilan 
dikala seorang wanita suku Jawa mengandung dan usia kandungannya sudah mencapai tujuh bulan, mereka akan Melaksanakan semacam ritual selamatan atau biasa disebut mitoni. Salah satu ritual mitoni yang mesti dijalankan oleh ibu hamil hal yang demikian yaitu tingkeban. 

Pada ritual ini, wanita yang tengah mengandung dimandikan menggunakan campuran air dan bunga. Kain yang digunakan sebagai kemben pun jumlahnya mesti tujuh dan dipakai secara bergantian dikala acara tingkeban berlangsung. 

b) Adat Istiadat Suku Jawa dikala Upacara Pernikahan 
Adat istiadat suku Jawa juga sering dilaksanakan dikala upacara pernikahan. Masyarakat suku Jawa percaya akan adanya hari yang bagus untuk melaksanakan pernikahan. Hari bagus hal yang demikian, biasanya, berpatokan pada buku primbon Jawa. 

Sebulan sebelum acara pernikahan berlangsung, calon pengantin suku Jawa tak diperbolehkan untuk saling bertemu. Khusus calon mempelai wanita, biasanya, akan dipingit. 

Ritual pingitan ini ditujukan untuk mempersiapkan fisik dan mental si gadis yang akan memasuki jenjang pernikahan. Sehari sebelum acara pernikahan, calon mempelai wanita kembali Melaksanakan ritual. Kali ini, ritualnya berupa siraman. 

Pada acara siraman, air yang digunakan oleh calon pengantin biasanya sudah dicampur dengan bermacam-macam bunga. Kemudian, malam harinya, diadakan ritual midodareni. Ritual ini biasanya juga menjadi acara pertemuan sebelum pernikahan antara kedua keluarga calon mempelai. 

dikala acara pernikahan berlangsung, ritual adat istiadat suku Jawa yang dikerjakan lebih banyak. Mulai saling melempar sirih hingga ritual membasuh kaki mempelai pria oleh mempelai wanitanya. 

c) Adat Istiadat Suku Jawa dikala Upacara Kematian 
Ketika salah satu masyarakat suku Jawa meninggal, ritual adat istiadat pun tak lepas mengiringi. Ritual yang biasa dikerjakan yaitu brobosan, yaitu melintas di bawah mayat yang sudah ditandu dengan cara berjongkok. 

Ritual adat istiadat pun belum selesai hingga di situ. Setahun pertama setelah meninggal, biasanya, pihak keluarga yang ditinggalkan akan mengadakan selamatan pendak siji, pendak loro, hingga pendak telu atau selamatan yang dikerjakan di tahun ketiga. 

Sejarah Lainnya:

ebook sejarah jawa, sejarah rumah joglo jawa timur, pemberontakan dahulu islam di jawa tengah, sejarah rumah adat joglo jawa timur, sejarah winduherang kuningan jawa barat, silsilah rebab, asal usul tari merak jawa tengah, sejarah kecapi, buku sejarah jawa baray pdf, Tradisi winduherang